Raih Gelar Doktor dari Teliti Wayang Wong Keraton
Tanggapan atas wayang wong juga muncul di daerah pedesaan seperti Gunungkidul, Bantul, dan Kulon Progo dengan dikelola oleh para dalang wayang purwo
TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Pergantian Raja Keraton Kasultanan Ngayogyakarta diketahui menghasilkan sebuah produk budaya baru. Salah satunya wayang wong gaya Yogyakarta. Kesenian ini awalnya hanya dipertunjukkan dalam upacara ritual penting kenegaraan.
Namun pada tahun 1918 pendiri Kridha Beksa Wirama (KBW), GPH Tejakusuma dan P Soerjodiningrat yang tak lain adalah Putra Sultan Hamengkubuwana VII berhasil membawa seni tari istana ke luar keraton atas dorongan masayarakat dengan seizin Sultan.
Cerita tersebut disampaikan oleh Drs Supadma, MHum dalam ujian terbuka promosi doktor di Sekolah Pascasarjana UGM, Rabu (28/1/2015). Ia mengatakan semenjak itulah wayang wong berhasil menembus tembok istana dan mendapat sambutan positif dari kalangan masyarakat biasa.
Dosen Jurusan Tari Fakultas Seni Pertunjukan ISI Yogyakarta ini menerangkan, dalam perkembangannya, wayang wong ditanggapi dengan berbagai bentuk turunan. Tanggapan atas wayang wong juga muncul di daerah pedesaan seperti Gunungkidul, Bantul, dan Kulon Progo dengan dikelola oleh para dalang wayang purwo.
“Fenomena ini menunjukkan perkembangan wayang wong menyangkut dimensi ruang, waktu, maupun bentuk pergelarannya,” ujar Supadma.
Dalam disertasi Supadma yang berjudul Wayang Wong Keraton di Kasultanan Ngayogyakarta dan Perkembangannya dalam Bentuk Wayang Wong Pedhalangan, Supadma mengatakan raja keraton menciptakan wayang wong dengan joged Mataram yang memiliki falsafah sebagai peletak dasar untuk menata kehidupan Kasultanan Ngayogyakarta.
“Sikap demokratis para sultan juga tercermin dalam proses penciptaan karya seni wayang wong,” katanya.
Pementasan
Dia menambahkan, Sri Sultan Hamengkubuwana I, V, VII dan VIII bersama abdi dalem bekerjasama menciptakan setiap lakon wayang wong untuk keperluan pementasan kraton. Wayang wong muncul pertama kali di dalam keraton Kasultanan Ngayogyakarta pada masa Hamengkubuwana I tahun 1757 kemudian dikembangkan oleh sultan-sultan selanjutnya.
Pada masa Hamengkubuwana V penulisan naskah wayang wong yang disebut serat kandha menuju kesempurnaan. Kemudian pada masa pemerintahan Hamengkubuwana VII dilengkapi dengan penulisan serat pocapan sebagai materi dialog. Pengembangan wayang wong berlangsung pada masa pemerintahan Hamengkubuwana VII sampai pada masa Hamengkubuwana X.
Di dalam kraton, pengembangan wayang wong dipimpin langsung oleh Sultan dengan bantuan pakar budaya kraton dalam bidang-bidang tertentu. Apabila Sultan berkenan mengadakan pembaruan dan penyesuaian wayang wong dalam lakon-lakon tertentu maka para abdi dalem berpedoman pada lakon yang telah ada kemudian mengubahnya sesuai dengan kondisi waktu itu.
Pada masa kekuasaan Hamengkubuwana VII, wayang wong kraton dikelola oleh masyarakat di luar istana. KBW adalah salah satu organisasi pengelola wayang wong yang berhasil memperbaharui metode pengajaran tari, menghasilkan gendhing baru, serta menyempurnakan tata busana wayang wong.
Setelah kasultanan Ngayogyakarta memasuki masa pemerintahan Hamengkubuwana VII, penyempurnaan wayang wong mencapai masa keemasannya.
Wayang wong juga dikelola oleh masyarakat di wilayah pedesaan di bawah pengaruh para dalang wayang purwa. “Para dalang ini dulunya adalah abdi dalem yang berkesempatan untuk terlibat dalam pertunjukkan wayang wong keraton,” kata Supadma.
Dengan pengalaman yang mereka dapat, akhirnya para dalang berinsiatif menghidupkan wayang wong di pedesaan bersama masyarakat desa dengan sebutan wayang wong pedhalangan.