Duh, Reklame di Yogya Kian Semrawut!
Anggota Badan Pelestarian Pusaka Indonesia (MPI) Laretna T Adhisakti menilai pelaku iklan Yogyakarta makin tak kreatif
Penulis: esa | Editor: Ikrob Didik Irawan
Laporan Reporter Tribun Jogja, Ekasanti Anugraheni
TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Anggota Badan Pelestarian Pusaka Indonesia (MPI) Laretna T Adhisakti menilai pelaku iklan Yogyakarta makin tak kreatif. Itu terbukti banyaknya media-media iklan yang didirikan serampangan di ruang publik.
"Sudah gawat darurat, butuh UGD. (Reklame di Yogyakarta) merusak. Ini bunuh diri Kota Yogya," keluh Laretna yang kini aktif sebagai Staf Pengajar Arsitektur UGM, Kamis (15/1/2015).
Padahal, sebagai gudangnya insan kreatif, Yogyakarta harusnya mampu menyediakan alternatif media iklan. Tidak sebatas baliho, billboard yang merusak pemandangan dan bangunan cagar budaya (BCB).
Belum lagi spanduk dan poster yang dipaku di pohon-pohon dan ruang publik lainnya. "Ini kan era digital. Masih banyak media iklan selain baliho. Sekarang ini kan jadi tidak kreatif malahan," keluhnya.
Permasalahan reklame yang mengganggu ruang publik sebenarnya mulai terlihat lebih dari 10 tahun terakhir. Karenanya, saat ini kondisinya sudah gawat darurat. Butuh penanganan secepatnya.
Lalu apa solusi agar pemasangan reklame tidak membuat wajah Yogyakarta semrawut? Simak informasi selengkapnya di koran Tribun Jogja, edisi Jumat (16/1/2015). (tribunjogja.com)