Anak Autis Perlu Didorong Mendapatkan Pendidikan Inklusi

Tenaga pengajar yang di sekolah reguler yang belum memiliki keberpihkan terhadap anak berkebutuhan khusus (ABK)

Penulis: Hamim Thohari | Editor: Mona Kriesdinar

Laporan Reporter Tribun Jogja, Hamim Thohari

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Di Yogyakarta saat ini terdapat 2388 anak berkebutuhan khusus yang menuntut ilmu di sekolah penyelenggara pendidikan inklusi. Dari jumlah tersebut, hanya terdapat 26 anak penyandang autis. Hal tersebut diungkapkan oleh Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga DIY Baskara Aji dalam acara Workshop Kepedulian Masyarakat terhadap Autisme yang berlangsung di Unversity Club UGM, Selasa (30/12).

"Jumlah tersebut kami akui masih sangat kecil, ada beberapa alasan yang melatarbelakanginya, diantaranya tingkat kepercayaan para orang tua terhadap sekolah reguler penyelenggara pendidkan insklusi," ungkap Baskara Aji.

Selain itu, tenaga pengajar yang di sekolah reguler yang belum memiliki keberpihkan terhadap anak berkebutuhan khusus (ABK), khususnya autis. Ditambahkan Basakara Aji, tenaga pendamping bagi ABK di sekolah reguler masih kurang. saat ini sekolah reguler masih banyak yang menggunakan pengajar pendamping dari SLB.

"Untuk kedepannya Dinas pendidikan akan terus melakukan pelatihan bagi guru-guru sekolah reguler untuk mampu menjadi pendamping bagi ABK," tambahnya.

Workshop Kepedulian Masyarakat terhadap Autisme sendiri diselenggarakan oleh Yayasan Edukasi Anak Nusantara (YEAN). Ketua YEAN, KPH Wironegoro mengatakan acara tersebut sengaja diselnggarakan untuk terus membangun dan mendorong kesadaran dan kepedulian masyarakat terhadap berbagai aspek autisme, baik pemahaman terhadap autism maupun anak autis itu sendiri.

"Melalui acara ini kami ingin menyamakan persepsi seluruh pihak, baik masyarakat, pemerintah, maupun orang tua tentang penanganan anak-anak autis," ungkap KPH Wironegoro.

YEAN mendorong agar anak-anak autis dapat mengenyam pendidikan di sekolah reguler dengan konsep sekolah inklusi. Anak autis tidak selayaknya dibiarkan dalam kehidupan sendiri. Mereka perlu berinterakasi dengan masyarakat umum untuk mengatasi permsalahan dalam melakukan interaksi sosial yang lazim dialami anak autis.

Turut hadir dalam acara tersebut Kasubdit Kelembagaan dan Peserta Didik, Direktorat Pembinaan Khusus Layanan Khusus, Dinas Pendidikan Dasar, Kementeraian Pendidikan dan Kebudayaan Sri Wahyuningsih. Diungkapkannya, setiap tahunnya jumlah anak autis di Indonesia mengalami peningkatan.

"untuk melayani pendidikan bagi anak-anak autis, kami telah membangun 32 Pusat Layanan Autis (PLA) yang terdapat di 25 provinsi. Dengan adanya PLA tersebut kami berharap anak-anak autis dapat ditangani sedini mungkin" ungkap Sri Wahyuningsih.(TRIBUNJOGJA.com)

Tags
autis
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved