Bagi Artha Tria, Kerja Itu yang Penting Telaten dan Serius

Semua bentuk kegiatan selalu ia jalani dengan serius, Artha benar benar menekuni hal yang sudah menjadi pilihannya

Penulis: rap | Editor: Ikrob Didik Irawan

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - MESKIPUN memiliki berapa kegiatan dan pekerjaan, bagi Artha Tria keseharian saat ini bisa dibilang tidak terlalu menghabiskan banyak waktu. Selain siaran dengan beberapa acara regional di salah satu radio network, perempuan yang satu ini juga bekerja di sebuah instansi Pemerintah di Yogyakarta.

Kenapa dibilang tidak terlalu sibuk? Menurut dara bernama lengkap Artha Tri Hastutiningsih ini, karena jam siaran yang baru dimulai sepulang kerja dari instansi. Selain itu, bila akhir pekan, khusus hari Sabtu, Artha sengaja meluangkan waktunya untuk quality time bersama keluarga. Selain itu aktivitas Artha lainnya adalah menjadi MC dan narator.

Semua bentuk kegiatan selalu ia jalani dengan serius, Artha benar benar menekuni hal yang sudah menjadi pilihannya. Alasannya sederhana, karena tidak semua orang bisa memilikinya.

"Kalau orang Jawa bilang wang sawang sinawang (saling memandang, saling menilai, red). Banyak orang yang melakukan pekerjaan dan menganggap ini adalah karir yang telah dipilih dan diinginkan dari dulu," ujarnya.

Sejalannya waktu, lanjut Artha, pekerjaan yang dianggap karir tadi ternyata tidak memberikan kenyamanan yang berujung pada tidak adanya komitmen, atau tidak menyelesaikan tanggung jawab atas apa yang sudah di pilih.

"So, before I'm tired and complain about my job, think those who whised they had mine. Oleh sebab itu, apapun pekerjaan yang sedang dilakukan, intinya cuma telaten dan komitmen, kalau dua hal itu sudah dilakukan, yang namanya kenyamanan akan muncul dan dirasakan dengan sendirinya," tuturnya.

Menjadi penyiar radio memang sudah jadi keinginan gadis kelahiran Pontianak, 25 November 1987 ini. Sejak kecil, ia sudah suka berpura-pura mewawancarai ayah dan ibunya dengan pensil, sisir, sendok makan, dan seolah-olah jadi reporter atau penyiar.

"Alhamdulillah orangtua saya diberi ketabahan menghadapi tingkah anaknya yang sedang berimajinasi ha...ha...ha," kata lulusan Sistem Informasi, STMIK Amikom Yogyakarta ini.

Beranjak dewasa, ternyata yang awalnya bakat tadi berkembang menjadi cita-cita. Berawal dari menjadi MC tingkat kampus, berkembang menjadi MC ke jenjang yang lebih komersial, Artha pun lalu dipercaya menjadi dubber maupun narator pada beberapa project. Pengalaman demi pengalaman itulah yang ia jadikan modal untuk melamar menjadi seorang penyiar.

"Prosesnya panjang, karena seperti pada umumnya, selalu ada penolakan dalam persaingan. Wajar, namanya juga kompetisi, yang menginginkan posisi ini (penyiar) nggak cuma saya. Tapi itu nggak menjadikan saya patah semangat," ucap Artha.

Momen yang paling menjadi magnet baginya untuk menjadi penyiar, adalah saat saya tersadar bahwa ternyata ayahnya juga mantan penyiar radio swasta di Pontianak. Selain itu, Artha juga selalu kagum jika melihat penyiar atau MC saat membawakan sebuah acara.

"Gaya bahasanya anggun dan tertata. Mungkin itu beberapa alasan kenapa saya sangat ingin menjadi penyiar," katanya.

Sebuah pekerjaan tentunya memiliki tantangan sendiri. Menurut Artha tantangan menjadi seorang penyiar adalah menghadapi narasumber yang memiliki karakter berbeda-beda.

"Mungkin kalau ngobrol biasa, bisa santai, tapi saat masuk studio dan berhadapan dengan mikrofon, semuanya bisa berubah. Ada yang tetap pede, malu, gugup, irit bicara, bahkan sampai lupa tadi yang ditanya apa yang dijawab apa," kata Artha menceritakan pengalamannya.

Karena itu, lanjutnya, tantangannya adalah harus pintar membangun mood dan mencairkan suasana, bahkan saat talkshow mendadak, yang memaksa untuk mengajukan pertanyaan on the spot. Selain itu, menjadi penyiar juga memiliki jam kerja yang berbeda dari lainnya.

Sumber: Tribun Jogja
Halaman 1/2
Tags
Radio
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved