Conclusion Mataram to Kotagede
Beberapa desainer di Yogyakarta pekan lalu menggelar peragaan busana di jalan
Penulis: rap | Editor: Ikrob Didik Irawan
TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - PERAGAAN busana tidak mesti digelar di catwalk sebuah hotel berbintang dan sebagainya. Beberapa desainer di Yogyakarta pekan lalu menggelar peragaan busana di jalan.
Mulai pukul tiga sore, Minggu, (12/10/2014) masyarakat berjejalan memadati Pendopo Extuta di depan Koramil Jl Kemasan, Yogyakarta.
Dengan menampilkan tiga outifit/busana bertema “Conclusion Mataram to Kotagede”, Fashion designer yang terlibat adalah Lia Mustafa “Mozaik Jogja“ bersama 5 designer klamb, yakni Naresh Klamb dengan tema “Mataram Construction”, Novita Klamb “Mataram Mosque”, Amel Klamb “The Power of Baluwerti“, Nanik Klamb “Aliance”, dan Aline Klamb.
Peragaan busana yang digelar oleh Lia Mustafa, Young Designer KLAMB House of LMAR, dan Acesories Designer Silver Kotagede ini juga menjadi bagian dari Carnival and Art Festival Kotagede.
Lia menjelaskan bahwa batik secara historis dikenal sejak abad XVII yang ditulis dan dilukis pada daun lontar. Dalam sejarah perkembangannya batik mengalami perkembangan, yaitu dari corak-corak lukisan binatang dan tanaman lambat laun beralih pada motik abstrak yang menyerupai awan, relief candi, wayang beber dan sebagainya.
Keberadaan batik Yogyakarta, lanjutnya, tidak terlepas dari sejarah berdirinya kerajaan Mataram Islam oleh Panembahan Senopati. Setelah memindahkan pusat kerajaan dari Demak ke Mataram, dia sering bertapa di sepanjang pesisir Pulau Jawa.
Sebagai raja Jawa yang tentu saja menguasai seni, maka keadaan tempat tersebut mengilhaminya menciptakan pola batik lereng atau parang, yang merupakan ciri ageman (pakaian) Mataram yang berbeda dengan pola batik sebelumnya.
Sedangkan sejarah Kerajinan perak Kotagede berasal ketika Panembahan Senopati di Mataram memerintahkan abdi dalem kriya membuat perhiasan dari emas dan perak. Bagaimana jika tidak? mungkin saja Kotagede tidak akan pernah mendapat julukan sebagai Kota Perak.
Lia menjelaskan andaikata pihak keraton Yogyakarta, tidak terpikat dengan hasil kerajinan logam berciri tradisional hasil sentuhan tangan abdi dalem kriya Kotagede, mungkin kilap perak sudah lama terbenam di antara rumah joglo dan rumah loji, dengan ciri seni bangunan Eropa.
“Kekayaan dan kemampuan para pengerajin dan aksesoris designer dari Kotagede ini menjadi sentral dari pagelaran kali ini,” kata Lia. (tribunjogja.com)