Tahun Ini Kualitas Tembakau Sleman Menurun

Ia menprediksi harga rajangan daun tembakau kering petikan terakhir bisa mencapai Rp 100 ribu per kilogramnya.

Penulis: ang | Editor: Hendy Kurniawan

Laporan reporter Tribun Jogja, Angga Purnama

TRIBUNJOGJA.COM, SLEMAN - Kualitas tembakau di Kabupaten Sleman pada musim tanam tahun ini menurun. Cuaca menjadi faktor utama yang menyebabkan penurunan kualitas bahan baku rokok itu.

Albani (40) salah satu petani tembakau di Selomartani, Kalasan, mengatakan kadar air pada daun tembakau panen pertama hingga ketiga pada musim petik tahun ini cukup tinggi. Berbeda dengan musim petik pada tahun lalu, yang kualitasnya lebih baik karena kadar airnya tidak terlalu tinggi.

“Tahun lalu petikan pertama hingga ketiga digolongkan di kelas E karena kadar airnya rendah. Sehingga petikan keempat sudah mencapai kelas F atau tembakau super,” paparnya saat ditemui tribunjogja.com di gudang pengelolaan tembakau miliknya, Kamis (9/10/2014).

Menurutnya, cuaca pada tahun ini sulit diprediksi. Sebab, pada saat tembakau sudah masuk pada masa pembesaran sebelum panen, hujan masih turun. Padahal idealnya pada masa tersebut tanaman tembakau sudah tidak lagi terkena air.

“Cuaca sangat mempengaruhi, karena pada saat masa ini candu tembakau yang menjadi cita rasa pada daun tembakau mulai diproduksi. Sehingga apabila masih terkena hujan, maka produksi candunya terhambat,” ungkapnya.

Kondisi ini berpengaruh pada harga tembakau di pasaran yang juga menurun. Untuk rajangan daun tembakau kering untuk hasil petikan pertama hingga ketiga hanya dihargai Rp 70 ribu saja per kilogramnya, berbeda dengan harga tahun lalu yang mencapai Rp 90 ribu per kilogram untuk petikan yang sama.

“Meskipun tidak terlalu anjlok, tapi harganya lebih tinggi tahun lalu dikarenakan kualitas daunnya. Kami optimis harganya tetap stabil hingga petikan terakhir,” kata dia.

Ia menprediksi harga rajangan daun tembakau kering petikan terakhir bisa mencapai Rp 100 ribu per kilogramnya. Hal ini lantaran kualitas daun tembakau termasuk kelas F dengan kadar air rendah.

“Selama cuaca masih bersahabat (belum hujan), kualitas akan semakin baik. Tapi jika sudah hujan maka hasil panennya juga tidak baik,” jelasnya. (*)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved