Pangkalan Elpiji Keluhkan Tarif Angkut yang Tidak Wajar
Seiring melonjaknya harga elpiji tiga kilo, keluhan muncul dari berbagai pihak. Satu diantaranya dari pihak pemilik pangkalan
Penulis: pdg | Editor: tea
Laporan Reporter Tribun Jogja Padhang Pranoto
TRIBUNJOGJA.COM, KLATEN - Seiring melonjaknya harga elpiji tiga kilo, keluhan muncul dari berbagai pihak. Satu diantaranya dari pihak pemilik pangkalan. Sudirin satu diantaranya. Menurutnya naiknya harga elpiji dipengaruhi oleh ongkos angkut. "Yang naik bukan dari harga tabungnya tapi lebih ke tarif angkutnya yang naik," tuturnya.
Menurutnya harga elpiji kemasan melon dari agen ke pangkalan tetap Rp 12.750. Jumlah tersebut masih ditambah dengan kenaikan ongkos distribusi sebesar Rp 750.
Kekecewaan Sudirin bertambah setelah mengetahui bahwa ongkos distribusi mengalami penggelembungan sebesar Rp 100. "Untuk menebus 25 tabung saya harus merogoh koceknya senilai Rp 340 ribu. Kalau sesuai aturan kan harusnya Rp 337.500. Saya jelas kecewa dengan ulah oknum yang melakukan hal tersebut," tegasnya.
Ketika dikonfirmasi, Kabid LPG Himpunan Wiraswasta Nasional Minyak dan Gas Bumi (Hiswana Migas) Solo raya Budi Prasetyo tidak menampik hal tersebut. Namun demikian ia menegaskan ongkos tambahan untuk distribusi hanya Rp 750.
"Sesuai dengan SK gubernur Jawa Tengah, memang ada tambahan ongkos untuk biaya angkut distribusi. Hal tersebut pun sudah di sosialisasikan kepada pemkab melalui surat edaran. Dan kami hanya menjalankan hal tersebut," kata dia.(*)