Lipsus Rentetan Pembunuhan di Yogya
Tak Hanya Digaruk Tapi Ada Solusinya
Kepala UPT Malioboro, Syarif Teguh mengatakan, aksi kekerasan di Malioboro dan kawasan Titik Nol Kilometer memang membuat citra wisata Yogya ternoda
Penulis: had | Editor: Ikrob Didik Irawan
TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Kepala UPT Malioboro, Syarif Teguh mengatakan, aksi kekerasan di Malioboro dan kawasan Titik Nol Kilometer memang membuat citra wisata Yogya ternoda. Sejumlah upaya memulihkan dilakukan, antara lain kompetisi pengamen dan Festival Kesenian Yogyakarta (FKY) 2014.
"KITA sudah bertindak, kita melihatnya pada akar masalahnya yakni orang-orang yang ada permasalahan sosial dan menggantungkan aktivitasnya di Malioboro," katanya.
Ia mengungkapkan, istilah pengamen tidak bisa digeneralisir namun perlu dispesifikasi. Ada pengamen pelaku seni dan mengangkat citra positif, tapi ada juga beberapa oknum yang tidak memiliki latar belakang seni yang hanya anak jalanan atau gepeng membawa alat musik.
"Minggu ini kita akan intensifkan terhadap penertiban anak jalanan dan gelandangan. Sebab terindikasi bukan hanya berkepentingan ekonomi semata, namun juga sindikat. Bukan hanya di Titik Nol, tapi di sepanjang Malioboro," katanya.
Memang, pola yang dilakukan hanya penertiban, terutama saat menjelang momentum liburan. Terlebih, adanya Dana Keistimewaan DIY juga dapat dialokasikan untuk mengangkat citra.
"Pelaku-pelaku seperti itu harus diminimalisir dan dipulihkan, bukan hanya dengan digaruk tapi juga dicari solusinya. Dinsos juga sudah ada komponen untuk itu," katanya.
Syarif mengutarakan, upaya yang bisa dilakukan adalah hanya dengan melakukan operasi terpadu, tidak bisa melakukan pencegahan. Sebab pihaknya tidak bisa melarang siapapun yang datang sewaktu-waktu, dan melakukan pengawasan terhadap setiap orang yang datang.
"Jogoboro yang melakukan pengawasan itu kekuatannya satu shift cuma 10 orang, kalau malam Cuma tiga orang. Saya mengakui memang belum bisa mencakup seluruhnya, tapi kita kerjasama dengan komunitas dan kepolisian," tutur Syarif.
Razia yang liar
Kapolresta Yogyakarta, Kombes Pol R Slamet Susanto mengatakan, memang ada beberapa oknum pengamen yang memaksa meminta imbalan dan berbuat jahat pada pengunjung.
Maka, pihaknya sudah bekerjasama dengan Satpol PP Kota Yogyakarta telah melakukan pendataan dan razia terhadap pengamen yang sifatnya liar.
"Liar artinya yang terindikasi berbuat jahat. Mulai setelah kejadian itu, kita lakukan giat patrol dan razia. Mudah-mudahan rutinnya patroli dan razia diharapkan di Titik Nol khususnya dan Malioboro umumnya bisa aman," katanya.
Kapolresta menyatakan, selama ini memang belum banyak kasus yang melibatkan pengamen hingga menimbulkan korban dan melakukan aduan. Kasus kekerasan hingga muncul korban jiwa itu baru kali ini ditemukan, sedangkan kasus lain terjadi di Gondokusuman.
Ia menegaskan, meskipun belum banyak, polisi tetap berupaya menjaga image Kota Yogyakarta agar tetap aman dan nyaman bagi siapapun yang ada di kota pelajar ini. Sebab jika situasi aman, akan berdampak positif terhadap berbagai hal, terutama sektor pariwisata.
"Kalau Jogja aman kan otomatis wisatawan suka datang juga ke Jogja. Jadi kejadian sekecil apapun harus ditangani dengan serius," tegasnya. (tribunjogja.com)