Lipsus Rentetan Pembunuhan di Yogya
Kunci Utama Pengawasan
Kontrol sosial baik yang dilakukan masyarakat maupun yang dilakukan pihak berwenang. Karena kalau tidak, akan terus berkembang
Penulis: had | Editor: Ikrob Didik Irawan
TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - MEMBACA problem sosial di kawasan Titik Nol Kilometer, yang paling berlaku atau teori yang berlaku dalam persoalan ini adalah teori kerumunan. Karena di situ memang banyak orang dari berbagai penjuru berkumpul.
Kemudian beberapa pihak memanfaatkan sesuatu dengan berbagai kepentingan, salah satunya adalah kepentingan ekonomi. Tapi dalam situasi krodit, teori pertama mereka merasa dirinya kuat, mereka tidak sendirian.
Biasanya, mereka merasa punya teman atau kelompok. Sehingga cenderung berbuat tidak bertanggungjawab, melakukan ancaman, bahkan tidak jarang melakukan kekerasan sampai pembunuhan.
Sehingga terjadilah hal-hal semacam itu. Kedua, dalam teori kerumunan, orang merasa dirinya tidak mudah dikenali oleh orang lain, karena mudah menghilang menyelinap seperti yang terjadi di kawasan parkiran Monas di Jakarta.
Maka memang salah satu cara untuk meminimalkan itu adalah mengetatkan kontrol. Kontrol sosial baik yang dilakukan masyarakat maupun yang dilakukan pihak berwenang. Karena kalau tidak, akan terus berkembang dan menjadi preseden tidak baik.
Orang akan menjadi takut untuk datang berekreasi menikmati wisata di Yogyakarta ini. Kalau biasanya untuk pengamen yang sudah terkoordinir, mereka sudah punya peraturan, tidak boleh mengancam, tidak boleh menyakiti.
Kalau ada yang seperti itu, malah biasanya justeru pengamen ini nimbrung di situ dan tidak mengikuti peraturan. Saya kira koordinator pengamen itu harus dikumpulkann untuk diberikan pengarahan dan harus ada tindakan tegas.
Kalau tidak itu akan kembali terulang. Bahkan terjadi perilaku pengulangan. Langkah pihak pemerintah dengan menggelar patroli di jam-jam tertentu, kalau menurut saya patroli saja tidak tidak cukup, karena mereka lebih hapal daerah itu apalagi jika patrol dilakukan pada jam-jam tertentu.
Saat ada kesempatan, mereka akan berbuat tidak bertanggungjawab. Jadi mereka tidak bisa hanya dilakukan patroli. Andaikata terpaksa hanya mampu melakukan patroli, itu harus intensitasnya tinggi.
Kedua, itu dengan waktu yang tidak ditentukan, kadang siang, pagi dan waktu tidak terduga. Sebab kalau rutin (jam tertentu), justeru mudah dihafal dan bisa mengambil kesempatan saat petugas lengah.
Agar lebih efektif, sebaiknya jangan hanya melakukan patrol saja, tapi juga menempatkan orang-orang yang bisa dijadikan kerjasama dengan pihak terkait. Termasuk mengajak kerjasama dengan pihak yang beraktivitas di tempat itu, seperti pengamen ataupun tukang parkir.
Atau sekarang dengan adanya teknologi terkini, bisa dengan memasang kamera CCTV lebih banyak. Walaupun kamera itu efektif atau tidak, paling tidak itu bisa untuk mengawasi terhadap orang yang ingin berbuat semaunya.
Adapun demi kepentingan kawasan Malioboro hingga Titik Nol Kilometer yang nyaman dikunjungi, jangan hanya menggantungkan pihak kepolisian, tapi masyarakat juga memberikan kontrol, sehingga tindakan kejahatan itu bisa diminimalkan. (tribunjogja.com)
Oleh: DRS SOEPRAPTO SU, Sosiolog UGM