Cairan Antibocor Tidak Menguras Kantong
Mimpi buruk penunggang motor sport dan motor besar satu di antaranya adalah mengalami ban bocor
Penulis: Rento Ari Nugroho | Editor: Ikrob Didik Irawan
Laporan Reporter Tribun Jogja, Rento Ari
TRIBUNJOGJA.COM YOGYA - MENGALAMI ban bocor ketika asyik berkeliling dengan motor kesayangan seringkali menjadi momen menyebalkan, terutama bagi pemilik motor sport. Tak jarang korban menuntun motor cukup jauh untuk menemukan tukang tambal ban. Untung saja kini ada solusi berupa cairan antibocor.
Kejadian bocor tidak hanya dialami bikers yang menggunakan sepeda motor untuk aktivitas harian. Bagi mereka yang sering melakukan touring pun juga tak lepas dari masalah ini.
"Karenanya, cairan antibocor merupakan solusi mencegah hal tersebut terjadi, terutama ketika touring menempuh jarak yang lumayan jauh," jelas Ristyan, Deputy Store Manager Ace Hardware Plaza Ambarrukmo Yogyakarta. Pria yang rajin touring ini tak pernah alpa membekali sepeda motornya dengan cairan tersebut.
Mimpi buruk penunggang motor sport dan motor besar satu di antaranya adalah mengalami ban bocor. Untung saja, lanjut Ristyan, teknologi yang awalnya diterapkan pada mobil itu sekitar dua tahun lalu mulai marak di Indonesia.
"Memang awalnya untuk mobil, kemudian ke motor besar, lantas ke motor sport. Cairan ini efektif untuk motor yang menggunakan ban tubeless. Meski tertusuk paku atau benda tajam lain, cairan akan segera menutup lubang," jelasnya.
Hanya saja, meski lubang bocor sudah "diamankan" cairan antibocor, bukan berarti pengendara bisa bebas lenggang kangkung. Menurut Ristyan, setelah paku dicabut, biasanya tetap ada angin yang terbuang keluar. Karenanya sebaiknya ban segera mendapat tambahan angin.
Di tempat terpisah, pemilik Galaxy Motor, Jongky Santosa, mengungkapkan, meski penting, namun belum banyak pemilik motor yang mengetahui teknologi penting ini. Padahal, dari segi harga sebenarnya tidak terlalu mahal.
"Setahu saya, cairan ini mulai dikenal sekitar dua tahun lalu. Namun banyak yang belum tahu. Hanya saja, sejak akhir 2013 ini mulai marak yang pakai. Rupanya kerepotan bocor mulai disadari kalau ada solusinya," kata pria ramah ini.
Karena mulai tingginya permintaan, maka produsen pun berbondong-bondong membanjiri pasar dengan produknya. Menurut Jongky, kini setidaknya ada lima merek yang bisa dijumpai di Yogyakarta. Rentang harganya pun tidak terlalu menguras kantong.
"Harganya sekitar Rp35 ribu untuk satu bannya. Ban tubeless jelas bisa pakai. Tapi kalau masih pakai pelek ruji (jari-jari), sebaiknya dilapisi pake ban dalam," katanya.
Lantas, bagaimana cara kerja cairan ini? Jongky menjelaskan, cairan antibocor tersebut berwujud mirip jel. Setelah dimasukkan melalui dop ke ban dan disusul angin, cairan akan mengisi rongga ban.
"Dalam keadaan motor diam nggak dipakai, biasanya cairannya berkumpul menggumpal di bawah. Dipakai jalan, kena panas dan tekanan, cairan yang merata di ban menjadi semakin keras. Ketika lapisan ban kena paku, setelah paku dicabut maka cairan itu mengisi lubang paku. Jadinya ban nggak kehabisan angin. Namun tetap saja, ban harus diisi angin lagi," paparnya.
Mengenai usia pakai cairan tersebut, apabila motor dipakai harian maka tidak terlalu sering diisi kembali. Paling cepat setahun sekali cairan bisa diisi lagi. "Kecuali motor rajin dibawa touring. Pengalaman konsumen ada yang dua bulan sekali ngisi," katanya. (tribunjogja.com)