Astri Sampai Turki Berkat Tari Tradisi
Festival itu melibatkan 11 negara dengan puluhan penari tampil membawakan tarian tradisi masing-masing
Penulis: Yudha Kristiawan | Editor: Ikrob Didik Irawan
TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - GERAKANNYA lemah gemulai, kadang tegas, dengan sorotan mata tajam, namun, tiba-tiba berubah lembut. Itulah Astri Dwi Hapsari ketika diminta memeragakkan beberapa gerakan tarian. Aci adalah panggilan akrab dara yang memantabkan diri berprofesi sebagai seorang penari ini.
Lewat dunia tari, Aci beberapakali tampil di luar negeri di hadapan berbagai bangsa dengan beragam budaya. Baru-baru ini Aci digaet Dinas Kebudayaan Yogyakarta untuk tampil di negara Turki dalam sebuah pertunjukkan tari bertajuk "Dance Folks Festival".
Festival itu melibatkan 11 negara dengan puluhan penari tampil membawakan tarian tradisi masing-masing. Dalam kesempatan itu, Aci bersama 11 penari asal Yogyakarta, menarikan dua tarian. Sebuah tari tradisi bernama Sekar Puji Astuti dan tari kreasi bernama Angguk.
Sepekan di negara yang berbatasan dengan Yunani tersebut, Aci mengaku mendapatkan pengalaman berharga. Terutama soal referensi budaya. Aci beruntung bisa menyaksikan tari tradisi dari negara lain secara langsung sekaligus bertukar pengalaman dengan sesama penarinya.
"Aku kenalan sama beberapa penari dari negara lain, salah satunya dari negara Makedonia. Untuk olah tubuhnya hampir sama dengan tarian kita. Hampir mirip-mirip," ujar Aci saat berkunjung ke Tribun Jogja belum lama ini.
Selama kurang lebih sebulan, Aci dan tim melakukan persiapan. Untuk tari tradisi yang sudah pasti pakemnya, Aci mengaku tak terlalu kesulitan membawakannya, hanya perlu melatih kekompakkan. Sementara itu, untuk tari Angguk yang termasuk tari kreasi, Aci harus sedikit berlatih ekstra karena gerakan-gerakannya sarat inovasi.
"Untuk tari Angguk koreografernya dosen Aci, Pak Gandung Jatmiko. Kalau tari kreasi memang lebih ke pengembangan gerakan, kalau tari tradisi kan tari sudah jadi, relatif lebih mudah penyesuaiannya," terang dara pemilik rambut panjang sepinggang ini.
Sebelumnya, Aci juga pernah tampil di Kanada dalam acara perayaan 61 tahun hubungan diplomatik antara pemerintah Indonesia dan Kanda. Pengalaman tampil di luar negeri dengan membawa nama dan misi budaya Indonesia menjadi modal Aci konsisten mengembangkan bakatnya di dunia tari.
Mahasiswi Jurusan Tari ISI Yogyakarta yang sebentar lagi akan diwisuda ini total ingin berkarya sebagai seorang penari. Melalui karya tugas akhirnya, Aci mengembangkan salah satu gerakan tari tradisi khas Yogyakarta yang disebut "ngruji".
"Aku kembangkan bentuk tangan ngruji dari pakem Jogja untuk TA, judulnya "Alep Ing Ngruji". Artinya keindahan dari Ngruji, keindahan dari bentuk tangan. Ngruji bentuk tangan yang sederhana tapi kok aku ngerasa indah banget, wanita banget. Ada halus, tegas, kokoh tapi juga lentik, yang mewakili kewanitaan," terang Aci sembari memeragakan bentuk tangan Ngruji. (tribunjogja.com)