Bisnis Masakan Keluarga Angkasa Menyasar Golongan Rumah Tangga
Apa yang kita kerjakaan saat ini sering kali jauh dari apa yang dulu pernah kita cita-citakan. Hal tersebut dialami Angkasa Nur Maulana (32).
Penulis: Hamim Thohari | Editor: tea
Laporan Reporter Tribun Jogja, Hamim Thohari
TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - - Apa yang kita kerjakaan saat ini sering kali jauh dari apa yang dulu pernah kita cita-citakan. Hal tersebut dialami Angkasa Nur Maulana (32). Semasa duduk di bangku kuliah, lelaki yang tinggal di Jalan Lowanu, Sorosutan, Umbulharjo, Yogyakarta itu memiliki cita-cita menjadi seorang fotografer.
TAKDIR berkata lain, saat ini Angkasa berkecimpung di bisnis rumah makan. Dirinya meneruskan usaha yang dirintis oleh ibunya. "Pada awalnya usaha Rumah Makan Rata-Rata ini ibu yang membangun, berdiri sekitar tahun 80-an di derah Bintaran," cerita Angkasa belum lama ini.
Lantas, ia pun berfikir mengapa tidak mengembangkan usaha yang telah dirintis oleh ibundanya itu. Saat usaha tersebut dikelola Sang Ibu, Rumah Makan Rata-Rata memiliki delapan cabang. Sekitar empat tahun lalu, Angkasa mulai mengembangkan usaha rumah makan tersebut dan saat ini mempunyai 22 cabang yang tersebar di wilayah Yogyakarta.
Beberapa rumah makan miliknya itu tersebar di sejumlah tempat seperti di Jalan Lowano, Jalan Menteri Soepeno dan Jalan Parangtritis. "Awalnya saya sama sekali tidak berfikiran akan meneruskan usaha yang telah dirintis ibu saya, setelah menikah fikiran tersebut berubah," kisah Angkasa.
Pria yang kuliah di jurusan Ilmu Kominukasi tersebut tidak terlalu kesulitan untuk menjalankan usaha rumah makan. Ditambahkanya, kemauan terus belajar yang membuatnya bisa menjalankan pekerjaan yang kurang sesuai dengan disiplin keilmuanya.
Walaupun di Yogyakarta saat ini bisnis rumah makan menjamur, tetapi Angkasa memiliki cara sendiri agar bisnis kulinernya tetap bertahan dan tumbuh semakin besar.
"Sasaran market kami adalah golongan rumah tangga. Daripada repot masak sendiri kami menawarkan 25 jenis sayur yang bisa dibungkus dan dibawa pulang dengan harga hanya Rp2 ribu," ujar Angkasa.
Selain sayur, rumah makan yang dikelola Angkasa tersebut juga menyediakan lauk pauk kurang lebih berjumlah 45 macam. Karena market yang disasar rumah makanya adalah keluarga dan kelas bawah, maka harga yang dipatoknya cukup bersahabat.
Selain keluarga, rumah itu kata dia juga banyak didatangi mahasiswa dan karyawan. "Kami sengaja membidik kelas bawah, karena di kelas tersebut sangat flesikbel. Orang dari kelas atas tidak sungkan datang rumah makan kami," ungkap Angkasa.
Setiap Rumah Makan Rata-Rata memiliki ciri khas yang berbeda-beda. Masakan dari setiap rumah makan disesuaikan dengan masyarakat yang tinggal di sekitarnya. Berdasarkan penjelasan Angkasa, Rumah Makan Rata-Rata yang berada Bintaran rasanya lebih condong ke masakan Kalimantan, karena di sana terdapat asrama mahasiswa Kalimantan. Untuk rumah makan yang berada di Babarsari rasanya cenderung pedas karena di wilayah tersebut banyak pendatang dari luar Jawa. Sedangkan di wilayah Bantul rasanya manis, karena pembelinya banyak orang yang asli Yogyakarta.
Setiap rumah makan yang ia miliki beroprasi secara mandiri. Mereka masak dan belanja sendiri, serta setiap rumah makan memiliki delapan karyawan.
"Dengan menghadirkan masakan rumahan, saya optimistis usaha ini masih bisa berkembang lagi di wilayah Yogyakarta. Ditambah dengan konsep yang kami miliki, saya masih berani membangun sekitar 20 cabang baru di Yogyakarta," terang Agkasa.
Kesulitan yang dihadapinya dalam mengembangkan usaha ini adalah sulitnya mencari tenaga kerja. Selama ini tenaga kerjanya masih sering gonta-ganti.(Hamim Thohari)