Breaking News:

Mahasiswa UGM Teliti Rumput Mutiara untuk Kerusakan Genetik

Ancaman zat karsinogenik dalam bentuk emisi kendaraan bermotor, radiasi, alkohol, dan rokok, bisa mengantarkan masyarakat terkena genotoksik

Penulis: Gaya Lufityanti | Editor: tea
Dokumentasi Pribadi
Penelitian rumput mutiara yang dilakukan mahasiswa Farmasi UGM berhasil mendapat apresiasi tinggi di tingkat internasional, yakni dalam Asia-Pacific Pharmaceutical Symposium (APPS) yang diselenggarakan di Kuala Lumpur, Malaysia 22-28 Agustus 2014 lalu. Penelitian mahasiswa UGM menarik banyak perhatian juri dan audiens, sehingga berhasil memboyong dua penghargaan sekaligus yakni Winner of Scientific Research Competition dan Most Favourite Scientific Research Poster. 


TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Ancaman zat karsinogenik dalam bentuk emisi kendaraan bermotor, radiasi, alkohol, dan rokok, bisa mengantarkan masyarakat terkena genotoksik. Adapun yang disebut efek genotoksik adalah terjadinya kerusakan genetika, ditandai dengan, satu di antaranya, perubahan sel.

KERUSAKAN genetik ini bisa berimbas dalam jangka panjang, bahkan dapat diwariskan ke generasi selanjutnya. Hal inilah yang perlu diwaspadai, karena penimbunan substansi genotoksik ditengarai menjadi penyebab timbulnya berbagai penyakit, semisal degeneratif dan kanker.

Beranjak dari fakta ini, sekelompok mahasiswa Farmasi UGM, yang beranggotakan Yoce Aprianto, Asri Mega Putri, Faradiba, Raisatun Nisa Sugiyanto, pun meneliti rumput mutiara (Hedyotis corymbosa (L) Lam). Rumput yang biasa ditemukan di tanah lembab, pinggir jalan, dan pekarangan rumah ini mengandung senyawa antioksidan dalam tanaman, yang berperan sebagai blocking agent, penghambat ikatan dengan DNA, RNA, atau protein target.

"Senyawa antioksidan pada rumput ini dapat melindungi tubuh dari kerusakan genetik akibat adanya radikal bebas," kata Yoce kepada Tribun Jogja, Rabu (3/9).

Penelitian Yoce dan teman-temannya ini mendapat apresiasi tinggi di tingkat internasional. dalam Asia-Pacific Pharmaceutical Symposium (APPS), di Kuala Lumpur, Malaysia, 22-28 Agustus 2014. Mereka pun berhasil memboyong dua penghargaan sekaligus, yakni Winner of Scientific Research Competition dan Most Favourite Scientific Research Poster.

Adapun dipilihnya rumput mutiara sebagai bahan penelitian, menurut Yoce, karena ia dan kawan-kawan sengaja mencari bahan antigenotoksik untuk memperbaiki kerusakan DNA. Menurutnya, tanaman ini memiliki potensi sebagai agen kemoprevensi. Selama ini rumput mutiara sudah biasa digunakan sebagai obat radang usus buntu dan hepatitis.

Penelitian yang dilakukan Yoce dan kawan-kawan menggunakan metode in vivo dan il silico molecular docking. Metode in vivo dilakukan dengan pengujian ke hewan uji, yakni 42 ekor mencit yang diberi ekstrak rumput mutiara. Hewan kemudian diberi perlakuan selama tujuh hari, namun pada dua hari terakhir hewan uji diberi siklofosfamid atau obat kanker payudara.

Pemberian siklofosfamid dilakukan untuk menguji kemampuan rumput mutiara. Menurut penelitian terdahulu, pemberian siklofosfamid dalam dosis tertentu akan menyebabkan timbulnya kanker sekunder, yakni leukimia dan kanker kolon, serta mempunyai efek samping genotoksik. Efek genotoksik dari siklofosfamid timbul karena obat ini termetabolisme di dalam tubuh menjadi metabolit yang membahayakan tubuh.

Mengacu hasil penelitian terdahulu itu, Yoce dan kawan-kawan harus menemukan cara agar tidak termetabolisme menjadi metabolit yang berbahaya, yaitu menggunakan ekstrak rumput mutiara. Ekstrak ini diprediksi sebagai agen antigenotoksik melalui mekanismenya menghambat radikal bebas. Sehingga, senyawa yang bersifat radikal bebas tersebut tidak termetabolisme menjadi metabolit yang berbahaya dalam tubuh.

Akan diberi merek
Sementara metode in silico molecular docking dilakukan menggunakan komputasi, tepatnya melalui software yang dikenal dengan nama PLANTS. Dengan metode ini, aktivitas senyawa di dalam rumput mutiara (asam ursolat) dapat diprediksi punya aktivitas farmalogi. Berdasarkan metode ini, terkuak bahwa rumput mutiara punya aktivitas antigenotoksik.

Yoce mengakui upayanya bersama sejumlah kawan itu masih membutuhkan penelitian lebih lanjut agar bisa digunakan langsung oleh masyarakat. Ke depan, rumput ini akan dijadikan ekstrak dan diberi merek menarik sehingga terdaftar. Secara empiris, masyarakat telah mengkonsumsinya dalam bentuk rebusan air rumput mutiara atau tanaman yang dilumatkan.

Meski peneliitan belum final, Yoce dan teman-temannya berhasil mendapat apresiasi tinggi dalam Asia-Pacific Pharmaceutical Symposium (APPS) di Kuala Lumpur, 22-28 Agustus 2014. Kala itu Yoce Aprianto berkesempatan mempresentasikan hasil penelitian tim di hadapan mahasiswa farmasi se-Asia-Pasifik, yang digelar setiap tahun.

Adapun APPS ke-13 tahun ini diikuti oleh 11 negara, yaitu Indonesia, Malaysia, Thailand, Australia, Selandai Baru, Jepang, Korea, Taiwan, India, Algeria, dan Sudan. Dari Indonesia, selain tim mahasiswa Farmasi UGM, ikut berkompetisi juga delegasi mahasiswa dari Universitas Indonesia, Universitas Padjajaran, dan Institut Teknologi Bandung. (gaya lufityanti)

Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved