Kurangi Kepadatan Kendaraan, Kampus Harusnya Gandeng Angkutan Umum
Setiap tahunnya, dijamin ada puluhan sampai ratusan ribu mahasiswa baru menggeruduk Kota Pelajar
Penulis: nbi | Editor: Ikrob Didik Irawan
Laporan reporter Tribun Jogja, Niti Bayu Indrakrista
TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Semakin bertambahnya jumlah kendaraan bermotor di Yogyakarta tidak bisa dilepaskan dari banyaknya jumlah pendatang ke wilayah tersebut, terutama dari kalangan mahasiswa. Setiap tahunnya, dijamin ada puluhan sampai ratusan ribu mahasiswa baru menggeruduk Kota Pelajar.
Guru Besar Transportasi UGM, Danang Parikesit menilai, untuk mengurangi kepadatan arus lalu lintas di Yogyakarta, pihak kampus bisa menjalin kerja sama dengan pengelola angkutan umum. "Pengelola angkutan umum seharusnya memandang institusi pendidikan sebagai corporate client, di mana mahasiswa menjadi pengguna yang sama-sama berlangganan," ujar Danang saat dihubungi Tribun, Minggu (24/8/2014).
Ia menjelaskan, kedua pihak itu bisa bekerja sama untuk mengupayakan agar mahasiswa mendapatkan kartu khusus yang memudahkan proses pembayaran angkutan umum. Tarifnya bisa disertakan dalam biaya kuliah mahasiswa yang bersangkutan.
Dengan begitu, mahasiswa akan dimudahkan untuk mengakses layanan angkutan umum. Di sisi lain, pengelola angkutan umum mendapatkan pemasukan yang tetap dan pasti.
"Ada setidaknya 150 ribu mahasiswa di DIY. Jumlah itu cukup untuk menghidupi sebuah perusahaan angkutan umum," kata Danang.
Kemudian, pemerintah bisa menyediakan lahan parkir yang luas dan gratis di halte angkutan umum. Jadi, mahasiswa yang tempat tinggalnya tidak terjangkau angkutan umum, bisa menggunakan kendaraan pribadi sampai ke halte.
"Kendaraan pribadi boleh saja, tapi jarak tempuhnya sesingkat mungkin. Jangan dari rumah ke kampus, tapi cukup rumah ke halte terdekat saja," kata dia. (tribunjogja.com)