Tradisi Syukuran Hasil Panen di Ngawi

"Kami Bersyukur karena Desa Bebas dari Hama"

Masyarakat Desa Pakah, Kecamatan Mantingan, Kabupaten Ngawi masih mempertahankan tradisi dari leluhur untuk mensyukuri hasil panen

Penulis: Ikrob Didik Irawan | Editor: tea

Laporan Reporter Tribun Jogja, Ikrob Didik Irawan

TRIBUNJOGJA.COM, NGAWI - Masyarakat Desa Pakah, Kecamatan Mantingan, Kabupaten Ngawi masih mempertahankan tradisi dari leluhur untuk mensyukuri hasil panen. Setiap tahun sekali, masyarakat di kecamatan paling barat di Jawa Timur ini rutin menggelar tradisi yang disebut sebagai Jumah Legi (Jumat Legi) atau Bersih Desa.

Dinamakan Jumah Legi karena tradisi ini memang selalu digelar pada hari Jumat Legi dalam penanggalan Jawa. Biasanya diselenggarakan pascapanen, tepatnya di bulan Agustus karena sekaligus untuk menyambut perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) RI.

Jumat (15/8/2014) tradisi ini berlangsung meriah. Acara yang dipusatkan di Balai Desa Pakah ini dipadati oleh seribuan warga. Sebagai bentuk rasa syukur hasil panen, setiap RT membuat sebuah jembulan. Jembulan ini mirip gunungan pada tradisi grebeg di Keraton Surakarta atau Yogyakarta.

Berupa rangka kayu yang dibentuk limas, jembulan ini diisi beraneka ragam hasil bumi. Ada buah-buahan, sayur mayur, hingga palawija yang semua berasal dari sumbangan sukarela masyarakat. Namun ada pula yang memberikan pakaian hingga uang sebagai isi jembulan.

"Tradisi ini sudah berjalan puluhan tahun, namun sempat berhenti beberapa waktu. Beberapa tahun ini dihidupkan kembali untuk mensyukuri hasil panen yang melimpah," kata Kepala Desa Pakah, Laksono Widodo.

Usai salat Jumat, jembulan mulai diarak oleh setiap RT untuk dibawa ke Balai Desa. Di situ, masyakat sudah berjubal menunggu untuk berebut. Setelah didoakan sesepuh desa, masyarakat langsung berebut jembulan. Mereka saling desak, saling dorong, bahkan saling injak.

Tak sampai lima menit, seluruh isi jembulan yang jumlahnya belasan buah itu ludes. Anak-anak terlihat gembira bisa mendapatkan isi jembulan berupa batang bambu kecil yang dihiasi sobekan kain warna warni dan aneka makanan. Sementara para orangtua mengincar nasi yang berisi lauk pauk.

Mereka percaya bila isi jembulan ini bisa mendatangkan berkah, terutama harapan agar hasil panen selanjutnya bisa lebih melimpah. "Bambu-bambu jembulan ini nanti dibawa pulang untuk dipasang di depan rumah," kata Winarto salah seorang warga.

Menurut Winarto, dahulu masyarakat pantang meninggalkan tradisi ini. Sebab mereka khawatir bila Jumah Legi tak digelar, akan datang malapetaka berupa hama yang bisa merusak tanaman masyarakat. "Kami bersyukur karena desa kami sampai saat ini terbebas dari hama serius misalnya serangan tikus atau hama lainnya," katanya.

Acara Jumah Legi masih berlanjut dengan hiburan wayang semalam suntuk yang juga berlokasi di balai desa. "Biasanya ada lomba panjat pinang, namun tahun ini ditiadakan karena suatu hal. Hanya diisi dengan berbagai lomba anak-anak untuk memeriahkan HUT kemerdekaan RI," kata Agus "Ngendok", Ketua Karangtaruna Pakah. (*)

Sumber: Tribun Jogja
Tags
Ngawi
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved