Lebaran 2014

Lalu Lintas di Malioboro Kian Macet

Dua hari setelah Idul Fitri, Yogyakarta mulai diserbu pengunjung. Kepadatan lalu lintas meningkat tajam.

Penulis: esa | Editor: tea


Laporan Reporter Tribun Jogja, Ekasanti Anugraheni

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA  - Dua hari setelah Idul Fitri, Yogyakarta mulai diserbu pengunjung. Kepadatan lalu lintas meningkat tajam. Penelusuran Tribun Jogja, dibutuhkan sekitar 30 menit bagi kendaraan roda empat untuk menyusuri penggal Jalan Malioboro saja. 

Bus Trans Jogja yang menjadi transportasi publik andalan di Yogyakarta inipun harus tersendat simpul-simpul kemacetan di Malioboro. Sementara untuk kendaraan roda dua, hanya butuh sekitar 15 menit untuk menyusuri jalan sepanjang sekitar 1,7 kilometer itu. 

Kemacetan yang terjadi tak lepas dari banyaknya penyeberang jalan sembarangan. Rambu dari Ditlantas Polda DIY bertuliskan "Harap Menyeberang di Zebra Cross" tampaknya tak digubris. Petugas penjaga yang dikerahkan pun tak mampu menertibkan semuanya. Lokasi depan Pasar Beringharjo menjadi simpul kemacetan utama di sepanjang Malioboro. 

"Kami formatnya hanya memberikan imbauan bagi penyeberang. Tanpa ada sanksi (menyeberang sembarangan)," ucap Dirlantas Kombes Pol Nasri Wiharto beberapa waktu lalu. 

Menuju pusat pariwisata Yogya itu, antrian kendaraan sudah terjadi mulai Jalan Mangkubumi. Kendaraan pun dipaksa memutari Stadion Kridosono untuk memecah kepadatan lalin sebelum masuk Jalan Malioboro. Sesuai prediksi Dinas Perhubungan Komunikasi dan Informasi (Dishubkominfo) DIY, puncak kepadatan lalu lintas di DIY terjadi pada H+2 dan H+3 lebaran yakni hari ini dan kemarin. 

Tak hanya di pusat kota, kawasan wisata Gunungkidul dan Bantul juga diserbu wisatawan luar kota. Praktis, jalur utama menuju Yogyakarta juga padat. Sebagai contohnya jalur utama Solo - Yogya. 

Dinas Perhubungan Komunikasi dan Informatika  (Dishubkominfo) DIY mencatat ada 25 titik kemacetan menuju pintu masuk Kota Yogyakarta. Pengunjung diharapkan bisa menghindari 25 titik macet itu dan beralih ke jalur alternatif yang disediakan. 

Kepala Bidang Angkutan Dishubkominfo DIY Muhammad Yazid mengungkapkan, 25 titik kemacetan itu tersebar di enam jalur utama memasuki Kota Yogyakarta. 

Dia menjelaskan, untuk jalur Purworejo-Yogyakarta ada empat titik rawan macet yakni di simpang pasar gamping, simpang Sentolo, simpang Sedayu dan Pasar Temon. Di jalur Tempel-Yogyakarta, ada lima titik  rawan macet yakni simpang empat pingit, simpang empat Jomobor, pasar Mlati, Pasar Tempel dan Pasar Kricak atau Karangwaru. 

Titik kemacetan terbanyak di jalur  jalur Prambanan-Yogyakarta. Di sepanjang jalur ini setidaknya ada enam titik rawan macet, meliputi simpang UIN Yogyakarta, simpang Babarsari, simpang Maguwoharjo, pasar Sambilegi, simpang tiga Bandara Adisutjipto 
dan jalur sekitar Bogem-Prambanan. 

Sedangkan jalur Yogyakarta-Wonosari, kemaceta  terjadi di simpang empat Rejowinangun, sekitar Kids Funs, simpang Piyungan dan sejumlah titik  di Kota Wonosari. "Selain itu, titik macet juga banyak terjadi di jalur arteri (ringroad) utara," terang Yazid. 

Ada enam titik macet di jalur arteri (ringroad) utara yakni simpang empat Gamping, simpang Jombor, simpang Monjali, simpang empat  Kaliurang, simpang empat Gejayan serta daerah U-Turn di depan Kampus UPN. "Sedang di arteri selatan titik kemacetan di depan Terminal Giwangan," ujarnya. (esa)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved