Lipsus Bisnis Warung Burjo

Ikut Menguntungkan Pelaku Bisnis Lokal

Perlu ada interaksi yang lebih baik lagi dari waktu ke waktu antara pengusaha pribumi atau lokal Yogyakarta dan luar daerah

Penulis: Yoseph Hary W | Editor: Ikrob Didik Irawan

Laporan Reporter Tribun Jogja, Yoseph Hary

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Keberadaan pengusaha mi rebus atau warung burjo di Yogyakarta memang cukup marak. Tidak hanya di kompleks kampus dan kos-kosan pelajar serta mahasiswa, warung yang biasa dikelola warga perantau dari Kuningan, Jawa Barat, ini juga sudah merambah wilayah pinggiran kota.

KETUA Umum Komunitas UMKM DIY, Prasetyo Atmosutidjo, mengatakan, keberadaan pedagang dari luar daerah baik, selama dapat menyatu dengan masyarakat lokal. Sebab itu, perlu ada interaksi yang lebih baik lagi dari waktu ke waktu antara pengusaha pribumi atau lokal Yogyakarta dan luar daerah.

"Kami juga ingin mendorong adanya perputaran uang secara lokal di Yogyakarta. Namun prinsipnya kami memperjuangkan semua UMKM," kata Prasetyo kepada Tribun, pekan kemarin.

Prasetyo mengakui belum mendata keberadaan pedagang kecil dan menengah dari luar daerah, termasuk dari Kuningan. Namun, bagaimana pun juga, kata dia, keberadaan mereka dipastikan mempunyai dampak positif. Selain memunculkan peluang lapangan kerja, keberadaan mereka juga akan memanfaatkan komponen-komponen lokal.

"Mungkin untuk tenaga kerja belum sampai di situ. Tapi dorongan atau inspirasi itu pasti muncul," ujarnya.

Selain itu, Prasetyo meyakini tak selamanya pengusaha luar daerah menggunakan bahan baku milik sendiri. Sebagaimana terlihat, ketersediaan bahan baku seperti warung mi rebus pun disokong pasar tradisional lokal Yogyakarta.

Dengan demikian, pelaku bisnis lokal di pasar tradisional pun mendapatkan pelanggan tetap. Apalagi jika ke depan semakin intens terjadi interaksi dengan pelaku bisnis lokal. Manfaat secara lokal tentu juga akan semakin kental.

Saat ini, menurutnya, keberadaan pengusaha mi rebus, meski cukup banyak, belum menempati pangsa pasar yang cukup besar. Mereka akan berkembang dari waktu ke waktu, selama dapat menyesuaikan dengan kondisi setempat.

Prasetyo mengandaikan, keberadaan pengusaha mi rebus luar daerah seperti halnya usaha angkringan yang semula asli orang Klaten. Semakin lama usaha tersebut juga dilakukan masyarakat Yogyakarta.

"Maka supaya orang luar daerah tidak menjadi orang asing, di Yogyakarta ya harus mempribumikan diri," katanya menyampaikan pesan. (Tribunjogja.com)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved