Lipsus Bisnis Warung Burjo

Membumi dan Peduli Masalah Sosial Setempat

Separuh dari keuntungannya dia sumbangkan ke posko bencana untuk membantu korban gempa

Penulis: Yoseph Hary W | Editor: Ikrob Didik Irawan

Laporan Reporter Tribun Jogja, Yoseph Hary

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Lintang pukang pedagang mi rebus atau warung burjo di Yogyakarta diperkirakan sudah memasuki generasi ketiga. Setidaknya perhitungan itu berdasarkan keberadaan paguyuban pengusaha warga kuningan (PPWK) yang muncul sekitar empat tahun lalu sebagai organisasi atau perkumpulan untuk kali ketiga, dalam bentuk paguyuban.

TIDAK banyak informasi yang berhasil dihimpun Tribun Jogja mengenai perkumpulan-perkumpulan pedagang Kuningan yang terdahulu. Yang jelas, lamanya waktu keberadaan para pedagang secara bertahap sejak 1980-an hingga kini, otomatis membuat mereka lekat dengan suka dan duka masyarakat Yogyakarta.

Mulai dari kejadian paling membekas bagi masyarakat Yogyakarta, yaitu peristiwa bencana gempa bumi 2006, kemudian erupsi Merapi 2010, bahkan hingga proses pengukuhan Yogyakarta sebagai daerah istimewa yang terbilang cukup alot, juga dirasakan para pedagang mi rebus asal Kuningan. Satu per satu, rentetan peristiwa itu juga mempertebal kepedulian dan rasa memiliki terhadap Yogyakarta.

Satu pengalaman diceritakan pedagang mi rebus asal Kuningan, Ayep Anggi, yang bertahan tetap membuka warungnya ketika gempa terjadi pada 2006. Asep, panggilan akrabnya, memilih tetap membuka usaha mi rebusnya di wilayah Karangwuni, Kabupaten Sleman, meski kala itu situasi terasa genting.

Sementara kebanyakan pedagang warung makan tutup, dia berpikir bahwa masyarakat yang tengah sibuk membantu pemulihan bencana itu membutuhkan tempat makan dan istirahat. Bukan alasan ekonomi, alias aji mumpung, dia mengaku murni karena merasa peduli.

Benar dugaannya, warungnya pun penuh sesak karena orang-orang tidak menemukan warung makan yang lain. Pendapatannya dalam sehari itu pun berlipat-lipat. Namun, sesuai misinya untuk peduli secara sosial terhadap situasi bencana itu, separuh dari keuntungannya dia sumbangkan ke posko bencana untuk membantu korban gempa.

Separuh lainnya, diberikan kepada tiga karyawannya yang sampai kewalahan membantu, sebagai bentuk bonus atas kerja keras mereka. Dia pribadi mengaku hanya mengambil sebagian kecil setara dengan keuntungan harian seperti biasanya.

"Ada pedagang lain yang memutuskan mudik karena takut mati. Tapi saya juga tidak bisa mengambil kesempatan seperti itu untuk keuntungan pribadi. Saya bertekad menyumbangkannya untuk bencana waktu itu," tutur Asep mengenang.

Sikap pedagang mi rebus asal Kuningan seperti Asep itu barangkali hanya salah satu contoh betapa mereka semakin lama telah menyatu dengan masyarakat lokal, bahkan peduli dan ikut memiliki Yogyakarta. Hal itu pula yang kemudian tertuang sebagai bagian dari visi misi PPWK, yang terbentuk di kemudian hari pada 2010.

Pemantapan pembentukan paguyuban itu memang, lagi-lagi, berangkat dari kondisi Yogyakarta yang sedang dilanda bencana. Namun, selain visi misi sosial, perkumpulan itu juga sebagai wadah yang mengayomi seluruh pedagang warga Kuningan.

Secara umum, paguyuban itu memiliki program berupa "Sadakah, amal, dan dana akan kembali ke warga". Itu pula yang menurutnya sebagai wujud nyata bahwa masyarakat perantauan seperti mereka datang ke Yogyakarta dengan niat yang baik. Lebih dari itu, Asep menyatakan keinginannya menyatu dengan kebudayaan setempat.

Wujud peduli

Ketua PPWK, Andi Waruga, mengatakan, kebaikan masyarakat Yogyakarta pula yang akhirnya menarik bagi warga Kuningan untuk berdagang. Sebab itu, ketika terjadi rentetan bencana, perkumpulan itu terbentuk sebagai wujud peduli untuk ikut terlibat membantu korban bencana.

"Kami masih berkoordinasi dengan BNPB, Pak Gubernur Sri Sultan dan permaisuri serta keluarga Kraton, dan pihak-pihak lain. Banyak hal yang bisa kami ikut terlibat, tidak hanya soal bencana atau sosial, tapi juga terlibat dalam kebudayaan dengan membuat gunungan mi instan dan sebagainya," kata dia.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved