Lipsus Bisnis Warung Burjo
Pulang Bawa Uang Semiliar
Omset dari total 1.500an outlet saat ini dalam setahun saya kira mencapai lebih dari satu miliar rupiah. Itu angka global, Rp 1 miliar lebih
Penulis: Yoseph Hary W | Editor: Ikrob Didik Irawan
Laporan Reporter Tribun Jogja, Yoseph Hary
TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Gambaran dunia usaha warung burjo di Yogyakarta cukup mengesankan. Perputaran uang bisnis kecil-menengah ini secara total ternyata bisa mencapai miliaran rupiah per tahun. Nilai manfaat bisnis warung burjo itu sebagian kembali ke masyarakat di Yogyakarta.
Namun tak juga dipungkiri, sebagian besar keuntungan dinikmati pedagang asal Kuningan sebagai wujud hasil atau pendapatan bisnis. Ketua Paguyuban Pengusaha Warga Kuningan (PPWK) di Yogyakarta, Andi Waruga, mengatakan bahwa keberadaan pengusaha warga Kuningan di Yogyakarta sudah sejak tahun 1970-1980an.
Namun kondisi saat itu jauh berbeda dari Yogyakarta sekarang yang penuh dengan mahasiswa dan pelajar. Menu dagangannya pun saat itu sangat minim. Sebagaimana identitas tempat usaha warga Kuningan saat ini, yaitu "warung burjo", leluhur warga Kuningan yang mengawali berdagang di Yogyakarta hanya berjualan bubur kacang ijo atau disingkat burjo.
Berdasarkan kondisi sosial dan ekonomi masyarakat saat itu pula, penghasilan penjual burjo yang katanya hanya mengandalkan pikulan (alat pikul) serta gerobak dorong pun dipastikan tidak sebesar saat ini.
Berdasarkan pengalaman dan kisah-kisah para pendahulunya, keberadaan warung burjo di Yogyakarta terus berkembang. Setelah cara berdagang dengan pikulan dan gerobak dorong ditinggalkan, berikut menu burjonya, pengusaha Kuningan mulai kreatif dengan menyewa tempat dan menetap. Tahun 1990an, menurutnya, warung burjo mulai booming.
Perkembangan tersebut tidak lepas dari kondusifitas Kota Yogyakarta yang aman dan nyaman. Terutama, eksistensi warung burjo berkembang karena di kota pelajar ini semakin penuh sesak dengan keberadaan pelajar dan mahasiswa.
Menyesuaikan kondisi dan tuntutan mencari pendapatan, usaha warung burjo semakin banyak. Saat ini diperkirakan jumlahnya mencapai 1.500 outlet. Sebagaimana pantauan, keberadaan mereka menyebar di seluruh wilayah DIY. Titik-titik lokasi paling banyak, antara lain di sekitar kampus dan kos-kosan mahasiswa dan pelajar.
Belakangan tidak sedikit tampak warung burjo di antara permukiman warga pinggiran kota. Andi menyebut, warung burjo semakin lama menjadi alternatif tempat makan yang digemari masyarakat di Yogyakarta. Menunya cukup sederhana. Kini, dengan uang Rp 10 ribu, orang bisa makan nasi plus sayur, telor atau gorengan, ditambah es teh.
Fakta itu jelas berpengaruh pada pendapatan pengusaha warung burjo. Andi mengakui, total omzet per tahun yang diperoleh seluruh outlet bisa mencapai miliaran rupiah.
"Omset dari total 1.500an outlet saat ini dalam setahun saya kira mencapai lebih dari satu miliar rupiah. Itu angka global, Rp 1 miliar lebih bisa dibawa pulang seluruh pedagang," kata Andi, ditemui di warung burjo miliknya di area parkir timur Galeria Mall Yogyakarta, Selasa (15/7). (Tribunjogja.com)