Lipsus Bisnis Warung Burjo
Manajemen Strategi Ala Lulusan SD
Sejak 2005 malang melintang sebagai pengusaha warung burjo di Yogyakarta, Andi Waruga kini mengelola empat outlet
Penulis: Yoseph Hary W | Editor: Ikrob Didik Irawan
Laporan Reporter Tribun Jogja, Yoseph Hary
TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Manajemen dan strategi pengelolaan warung burjo sebenarnya tidak memiliki aturan baku. Masing-masing pengusaha mengelola keuangannya bak memilah keuangan rumah tangga sendiri.
Ketua Paguyuban Pengusaha Warga Kuningan (PPWK) di Yogyakarta, Andi Waruga meyakinkan bahwa pernyataannya itu berdasar sebuah pengakuan mengenai latar belakang pendidikannya. Dia menegaskan, dirinya yang kini menjadi Ketua PPWK selama empat tahun terakhir, sebenarnya hanya seorang lulusan sekolah dasar.
"Orang-orang berpikir saya berpendidikan. Padahal hanya SD. Malah dulu ada yang tanya gelar saya apa," kenangnya. Hal terpenting sebagai kunci keberhasilannya, tak lain adalah kebiasaan bergaul sehingga menemukan manfaat untuk masa depannya.
Andi membuktikannya. Sejak 2005 malang melintang sebagai pengusaha warung burjo di Yogyakarta, Andi Waruga kini mengelola empat outlet. Warung burjo di area parkir sisi timur Galeria Mall merupakan outlet yang berdiri paling akhir, sekitar setahun lalu.
Pengusaha warung burjo lainnya di Jalan Kaliurang Sleman, Ayep Anggi, mengatakan di Yogyakarta ada 400-an pemilik usaha. Jika setiap pengusaha memiliki beberapa outlet, berarti omsetnya berkali lipat.
Dia mengandaikan, jika masing-masing dari 10 pengusaha saja per tahun omsetnya antara Rp 100 juta-Rp 200 juta, total omzet seluruh outlet bisa lebih dari semiliar rupiah. "Bayangkan saja sesuai data saya ada 400 pengusaha," ujar Ayep yang kini sebagai Sekretaris di PPWK, Kamis (17/7).
Meski demikian, perjalanan setiap pengusaha warung burjo bukan tidak mudah. Beberapa outlet yang kalah bersaing dengan usaha lokal bahkan gulung tikar. Namun, tidak dipungkirinya kebangkrutan seperti itu jarang terjadi dan dapat dihitung dengan jari. (Tribunjogja.com)