Lipsus Bisnis Warung Burjo
Cerita Dibalik Munculnya Menu Nasi Sayur
Munculnya nasi dan sayur di warung burjo tidak lepas dari aroma persaingan dengan pedagang lokal
Penulis: Yoseph Hary W | Editor: Ikrob Didik Irawan
Laporan Reporter Tribun Jogja, Yoseph Hary
TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Poin penting, perkembangan usaha warung mi rebus alias burjo ini mengalami beberapa tahap sesuai kondisi lingkungannya. Sejak pendahulunya pada 1970-an berdagang bubur kacang ijo menggunakan pikulan, kemudian berkembang dengan gerobak dorong, lalu berupa warung tenda, kini akhirnya warung burjo menetap di tanah sewa.
"Ada nasi dan sayur di warung burjo pun baru mulai 2005an. Sebelumnya hanya dengan menu sederhana berupa mi rebus atau goreng, aneka minuman es dan panas, dan beberapa jenis makanan ringan. Saat itu burjo sudah ditinggalkan dan jarang warung burjo ada buburnya," terang pengusaha warung burjo di Jalan Kaliurang Sleman, Ayep Anggi.
Menurutnya, munculnya nasi dan sayur di warung burjo tidak lepas dari aroma persaingan dengan pedagang lokal. Tanda-tanda kebangkrutan karena kalah dengan penjual nasi lokal membuat menu utama makan besar itu masuk dalam daftar menu warung burjo.
Penyesuaian tersebut dipastikan juga membuat angka permodalan untuk mendirikan warung burjo baru menjadi jauh lebih besar. Ayep menyebut, saat ini untuk mendirikan satu outlet diperkirakan membutuhkan modal Rp 15 juta-Rp 20 juta. Angka itu belum termasuk uang sewa tempat per tahun yang rata-rata mencapai Rp 15 juta.
Seperti diungkapkan Ayep, Andi Waruga menyebut modal total mendirikan satu outlet warung burjo kira-kira Rp 25 juta. "Tapi semua juga tergantung lokasinya. Di daerah padat kampus dan perkotaan tentu jauh lebih mahal," tutur Ayep. (Tribunjogja.com)