Bahasa Jawa Warisan Budaya yang Perlu Dilestarikan

Keberadaan Bahasa Jawa, terutama tingkat Krama Alus dirasa masih penting di tengah masyarakat penuturnya.

Penulis: nbi | Editor: tea

Laporan Reporter Tribun Jogja, Niti Bayu Indrakrista

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Keberadaan Bahasa Jawa, terutama tingkat Krama Alus dirasa masih penting di tengah masyarakat penuturnya. Akan tetapi, kesadaran itu tidak dibarengi tindakan nyata dari orangtua untuk mengajarkan kepada anak-anak mereka.

Itulah hasil penelitian Promovendus Kusno Efendi yang ia pertahankan dalam sidang doktoral Program Pascasarjana UMY, Kamis (26/6/2014) pagi.

"Orangtua tetap menyadari pentingnya unggah-ungguh, tapi mereka tidak cukup baik untuk mengajarkannya kepada anak-anak," ujar Kusno.

Penelitian untuk disertasinya itu ia lakukan terhadap masyarakat Desa Gilangharjo, Pandak, Kabupaten Bantul. Menurut dia, fakta temuannya di lapangan menyebut, perhatian orangtua untuk memberikan pendidikan Bahasa Jawa secara baik dan benar masih lemah.

Akibatnya, kata Kusno, menjadi bisa dimengerti ketika anak-anak tidak mampu berkomunikasi dengan bahasa tersebut dengan baik. "Di sisi lain anak-anak juga tidak menunjukkan unggah-ungguh yang baik ketika berbicara kepada orang tua," ujarnya.

Menurut dia, Bahasa Jawa merupakan warisan budaya yang sangat penting untuk dilestarikan. Termasuk di tingkatan bahasa di dalamnya. Ia menjelaskan, dalam hal ini kesadaran saja tidak cukup. Tanpa adanya aplikasi dalam kehidupan sehari-hari, hal itu akan memperparah fenomena degradasi budaya.

Menurutnya, penanaman nilai budaya Jawa pada anak sangat penting karena menjadi indikator keberhasilan pembentukan karakter. Selain itu nilai budaya dapat pula menjadi sarana untuk mengisi pendidikan agama anak.

Sebaliknya, ajaran-ajaran agama Islam juga dapat ditanamkan orang tua malalui nilai budaya Jawa sehingga dapat berkesinambungan. "Ketika orang tidak tahu asal-usul budayanya maka itu tanda kegagalan pembentukan karakter," tambah Kusno.

Ia mengusulkan, nilai-nilai budaya lokal harus dimasukkan dalam kurikulum. Sedangkan bagi lembaga pendidikan yang sudah memasukkan muatan budaya ditinjau ulang untuk ditambahkan jam belajarnya. Selain itu penting juga memberi pelatihan keterampilan menanamkan nilai budaya bagi pelaksana pendidikan dalam hal ini guru. (*)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved