Yuli Kudo Gambarkan Kondisi Hukum di Indonesia Lewat Lukisan
Sebuah lukisan di atas kanvas berukuran 180 sentimeter x 140 sentimeter, terpampang di dinding Bentara Budaya Yogyakarta (BBY)
Penulis: Muhammad Fatoni | Editor: tea
Laporan Reporter Tribun Jogja, M Fatoni
TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Sebuah lukisan di atas kanvas berukuran 180 sentimeter x 140 sentimeter, terpampang di dinding Bentara Budaya Yogyakarta (BBY). Dalam lukisan itu, tergambar Dewi Keadilan yang dikelilingi beberapa orang memegang uang dan senjata, seolah meminta sesuatu terhadap sang Dewi.
LUKISAN tersebut seakan menggambarkan potret keadilan yang terjadi di Indonesia belakangan ini. Hukum dan keadilan tak lagi berpihak pada kebenaran, namun lebih berpihak pada kekuasaan kekuatan dan mampu dibeli segepok rupiah.
Kondisi itulah yang coba disajikan si pelukis Dewi Keadilan, Yuli Kodo, dalam pameran seni rupa bertajuk "Kuwolak - Kuwalik' di Bentara Budaya Yogyakarta, 14-22 Juni. Menurutnya, lukisan itu memang ia tujukan untuk menggambarkan kondisi Indonesia utamanya potret hukumnya.
"Itu hanya sebagian contoh yang kita sendiri tahu hukum di negeri ini seakan bisa dibeli, tajam ke bawah tapi malah tumpul ke atas," ujarnya saat ditemui, Minggu (15/6) siang.
Dalam lukisan Dewi Keadilan, Yuli ingin menunjukkan kenyataan kondisi hukum di Indonesia, yang menurutnya sudah tidak adil dan melenceng dari jalurnya. Politik uang dan kekuasaan, dinilainya memegang peranan dan bisa mengendalikan hukum di Tanah Air ini.
"Hukum kita sudah terbalik-balik enggak jelas, enggak pernah benar, karena politik uang dan kekuasaan, itu yang tergambar di lukisan Dewi Keadilan," ucap dia.
Yuli yang juga selaku ketua pameran tersebut menambahkan, lukisan yang ada pada pameran kali ini, termasuk Dewi Keadilan, bisa disebut sebagai respon para seniman lukis terkait kondisi bangsa. Ia menilai, kondisi di Indonesia saat ini bisa dikatakan sudah terbalik atau dalam bahasa Jawa disebut 'Kuwolak - Kuwalik'.
Kata itupun akhirnya diangkat menjadi judul pameran seni rupa itu. Melalui sebuah lukisan, imbuh Yuli, ia dan rekan-rekannya ingin menggambarkan dan mengingatkan masyarakat akan kondisi bangsa saat ini yang dianggap sudah melenceng dari jalur pakem seharusnya.
"Sengaja kami pilih judul dengan kata yang sederhana, kuwalik, tapi pas sekali untuk menggambarkan kondisi bangsa sudah terbolak-balik, yang salah bisa jadi benar dan sebaliknya," lanjutnya.
Lain halnya dengan pelukis Budi Yonaf, yang menyajikan sebuah lukisan berjudul Puser Bumi. Dalam lukisan tersebut, ia menyiratkan pesan dan ajakan agar masyarakat bisa kembali pada budaya luhur bangsa Indonesia yang rukun dan menjunjung kejujuran.
"Memang ada kegelisahan terkait kondisi negeri yang carut-marut sekarang, demi kepentingan tertentu, segalanya bisa diatur dan dibolak-balik, bahkan aib pun diumbar, ini tidak sesuai dengan budaya kita," tuturnya.
Lukisan Budi dan Yuli hanya dua dari sekitar 20-an lukisan yang disajikan pada pameran itu. Semua lukisan tersebut menjadi media para seniman mengekspresikan kegelisahan mereka terhadap kondisi bangsa.
"Sebagai pelukis, kami tetap ingin berkarya, dan melalui karya ini kami ingin ikut menyikapi kondisi yang terjadi saat ini," tandas Budi. (Muchamad Fatoni)