Menyingkap Tiongkok Kecil di Pantura Jawa (2- Habis)

Menurut pakar kajian Tionghoa, Andreas Susanto, bisa menjadi berbahaya jika muncul anggapan bahwa semua orang bisa (dan harus)

Penulis: nbi | Editor: tea

Laporan Reporter Tribun Jogja,  Niti Bayu Indrakrista 

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Menurut pakar kajian Tionghoa, Andreas Susanto, bisa menjadi berbahaya jika muncul anggapan bahwa semua orang bisa (dan harus) bertindak sesuai ekspektasi bahwa warga dari suatu etnis harus mengonfirmasi semua sikap atau gagasan yang disepakati.

APA yang ia maksud sebagai 'perlakuan' tadi, bisa terwujud dalam tindakan kekerasan yang brutal sekalipun. "Jadi ada ancaman bahaya di balik konsep harmoni," ujar Andreas, dosen Sosiologi di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Atma Jaya Yogyakarta.

Andreas melanjutkan, secara umum, hubungan etnis Tionghoa dengan etnis lain di Indonesia sebenarnya cenderung seragam. Perbedaan setting antardaerahlah yang kemudian menciptakan hasil negosiasi yang berbeda antara satu daerah dengan daerah lain. Atau satu pereiode dengan periode lain.

Andreas menceritakan, dirinya juga pernah meneliti mengenai kerusuhan 1998. Ia mengatakan, saat itu kerusuhan etnis tidak terjadi di Yogyakarta. Padahal, Kota Pelajar terletak cukup dekat dari Solo, yang tersulut api kerusuhan tersebut.

Hal itu menunjukkan bahwa DIY juga punya ketahanan layaknya Lasem. Begitu pula adanya pola hubungan etnis Tionghoa dengan tokoh setempat, yaitu para kiai di Lasem dan Sultan di Yogyakarta. "Malah kalau mau ampuh-ampuhan, sebenarnya Yogya lebih ampuh," kata dia.

Mengenai sebutan Tiongkok kecil sendiri, Andreas merasa tidak terlalu mempermasalahkan, kendati saat ini jumlah penduduk etnis Tionghoa di Lasem tidak lagi sebanyak dahulu. Semakin banyak warga Tionghoa Lasem yang memilih mencari pekerjaan di luar wilayah. Dari segi jumlah bangunan bercorak Tionghoa pun, sudah tidak sebanyak dahulu.

Menurut Andreas, hal itu tidak menjadi masalah mengingat unsur-unsur budaya yang dipertahankan di berbagai Tiongkok kecil atau Chinatown di seluruh dunia, sudah tidak ada lagi di Negeri Tirai Bambu itu sendiri. Pascarevolusi kebudayaan yang dicanangkan pemimpin Mao Tse Tung, sejumlah unsur budaya itu tidak lagi dikenal di tempat asalnya. "Masih ada beberapa bangunan tradisional yang dipertahankan, tapi tujuannya untuk pariwisata," ujarnya.

Warga etnis Tionghoa asal Lasem yang juga hadir dalam pertemuan tersebut, saat ini banyak warga etnis Tionghoa yang memilih untuk hidup di luar Lasem karena berbagai alasan. Begitu pula di dunia usaha. Dahulu, usaha Batik Lasem banyak dimotori oleh pengusaha Tionghoa. Namun kini, persentasenya berbalik, dan bisnis tersebut lebih banyak dijalankan warga etnis Jawa.

Anton mengatakan, warga etnis Tionghoa di Lasem juga kerap mendapatkan ancaman dari penguasa. Sebut saja, pemerintah kolonial serta rezim Soeharto. Pemerintah Orba malah ia sebut kerap mengerahkan tentara untuk mengawasi gerak-gerik warga Tionghoa. Itulah yang menjadi satu alasan sentimen warga Lasem yang merasa wilayahnya 'lebih tua' daripada Kabupaten Rembang.

Ia juga mengkritisi perhatian serta kepedulian pemerintah terhadap budaya Tionghoa di Lasem. Ia menilai ada perbedaan mencolok pada kadar perhatian tersebut, antara Lasem dengan wilayah lain di Indonesia seperti Yogyakarta. Karena itulah, menurut dia, sejumlah bangunan Tionghoa di Yogyakarta bisa bertahan, sementara di Lasem tidak. (niti bayu indrakrista)

Tags
Lasem
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved