Forsep Benar-benar Jatuh Cinta Pada Biawak
Forsep begitu pelajar SMA ini dipanggil, saat ini memelihara sekitar 15 ekor Biawak berbagai jenis
Penulis: Yudha Kristiawan | Editor: Ikrob Didik Irawan
Laporan Reporter Tribun Jogja, Yudha Kristiawan
TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Cinta terbukti mampu membuat seseorang mengesampingkan rasa takut, bahaya, bahkan logika. Namun cinta juga sekaligus mampu membangkitkan semangat hidup. Banyak kisah persahabatan manusia dan hewan yang didasari rasa cinta, sukses menginspirasi masyarakat dunia.
Sebut saja kisah seekor anjing bernama Hachiko. Setelah majikannya meninggal, Hachiko terus menunggui majikannya pulang di Stasiun Shibuya, Tokyo.
Namun, apa jadinya bila bentuk kecintaan dan persahabatan ini terjadi antara manusia dan seekor hewan yang tak lazim dipelihara. Ya, hewan itu adalah seekor Biawak, hewan melata yang habitatnya di sungai dan rawa-rawa di seluruh Indonesia. Awam pun cenderung menganggap reptile ini sebagai peliharaan yang extreme.
Adalah Muhammad Forsep Harliansyah, salah satu pecinta reptil yang memelihara Biawak. Tak tanggung-tanggung, Forsep begitu pelajar SMA ini dipanggil, saat ini memelihara sekitar 15 ekor Biawak berbagai jenis. Kecintaannya pada seekor Biawak dimulai sejak dua tahun lalu.
"Sebelum suka biawak, aku pelihara ular. Setelah tahu biawak itu bisa jinak seperti hewan peliharaan lain dan merasa ada chemistry yang lebih dengan biawak. Akhirnya semua ular yang aku punya ku ganti dengan biawak," ujar Forsep saat berkunjung ke Tribun Jogja belum lama ini.
Joker adalah salah satu biawak jenis Salvator Bivittatus yang dimiliki Forsep. Biawak air yang habitatnya berasal dari pulau Jawa ini diperlakukan Forsep layaknya seekor kucing rumahan. Tanpa rasa takut sedikitpun, Joker digendong dipundaknya dan dibelai-belai. Seolah ingin membalas rasa sayang majikannya, Joker sesekali menjulurkan lidahnya.
Saat ini Joker berusia sekitar lima tahun dengan panjang tubuh 1,7 m. Lantaran terlalu dimanja, menurut Forsep, kini Joker justru mengalami obesitas yang bisa membahayakan kelangsungan hidupnya.
" ni Varanus terbesar ke dua setelah Komodo. Panjang maksimalnya bisa mencapai 3,2 m. Dulu belinya masih ukuran 1 m, usia tiga tahun, aku pelihara sudah dua tahun. Ini termasuk kegemukan, harus diet. Sekarang sehari sekali dikasih makan daging ayam, paling beli Rp 10 ribu aja. Sebelumnya setiap hari aku kasih makan minimal 1 kg terus," ungkap Forsep.
Harga seekor Biawak tergantung dari jenisnya, motif kulit dan lengkap tidaknya bagian tubuh, seperti kuku-kuku kaki dan kelengkapan ekor. Biawak seperti Joker misalnya, dulu Forsep membelinya seharga Rp 1,5 juta, lantaran memiliki kekurangan seperti ekor patah, kuku kaki tidak lengkap serta beberapa bagian kulitnya mengelupas lantaran gesekkan. Harga Joker mungkin tergolong tidak mahal. Meski demikian Joker adalah biawak yang paling ia sukai.
"Kalau bagus, mulus, sebenarnya bisa sampai Rp 3-4 juta. Dilihat dari motif kulitnya, proporsi badan, itu termasuk mempengaruhi harga. Misalnya jenis, Sulfur, masih baby aja bisa sampai Rp 4-6 juta, bahkan bisa sampai Rp 10 juta. Warnanya dominan krim, matanya ngga ada garis. Kalau albino ada yang dijual Rp 45 juta. Aku sendiri selain jawa, juga punya salvator asal borneo dan sumatera," terang Forsep.
Saking cintanya dengan Biawak, Forsep bahkan rela beberapakali digigit oleh hewan peliharaannya tersebut. Bagi Forsep hal yang biasa ketika Biawak menggigitnya. Gigitan dianggapnya sebagai bentuk komunikasi yang bisa dilakukan.
"Kalau gigitan dan air liurnya berbahaya atau enggak, itu tergantung sama makanan yang kita berikan. Kenapa misalnya Biawak liar banyak bakterinya, karena makannya kadang bangkai, sebenarnya kalau kita kasih makanan yang sehat, daging segar, ya bakterinya akan berkurang," jelas Forsep sembari tetap membiarkan Joker berada dipangkuannya.
Tak hanya sekedar bersenang-senang untuk menyalurkan hobi semata, dengan memilih Biawak sebagai hewan peliharaan, Forsep hendak menyangkal anggapan bahwa reptile seperti biawak itu menakutkan, menyeramkan, sangat berbahaya, tidak jinak dan tak bisa dipelihara.
"Aku sendiri pengin merubah mindset biawak yang bau, jorok dan bahaya. Ternyata biawak bisa jinak, bisa diajak jalan-jalan seperti peliharaan lainnya," tandas Forsep yang juga tergabung dalam komunitas pecinta reptile, Blackpatern regional Yogyakarta.