Presiden Terpilih, Harus Batalkan Rencana Proyek Jembatan Selat Sunda

Ekonom Universitas Indonesia, Faisal Basri menilai rencana pembangunan jembatan di atas Selat Sunda sebagai 'sesat'.

Penulis: nbi | Editor: tea

Laporan reporter Tribun Jogja, Niti Bayu Indrakrista

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Ekonom Universitas Indonesia, Faisal Basri menilai rencana pembangunan jembatan di atas Selat Sunda sebagai 'sesat'.

Pasalnya, jembatan itu akan menghubungkan dua pulau yang menguasai lebih dari 80 persen PDB nasional, yaitu Jawa dan Sumatera, serta meninggalkan berbagai daerah lain di Nusantara.

Hal itu dikatakan Faisal dalam Seminar Meneropong Perekonomian Indonesia di kampus Fakultas Teknik UNY, Yogyakarta, Sabtu (10/5/2014).

Ia menjelaskan, kesenjangan ekonomi antara Jawa dan Sumatera dengan daerah lain begitu tajam hingga bisa mengancam kesejahteraan rakyat, dan hanya menguntungkan segelintir pengusaha.

"Presiden baru nanti harus batalkan rencana itu," kata Faisal di hadapan ratusan hadirin yang hadir.

Dalam kesempatan tersebut, ia juga menyoroti mahalnya ongkos distribusi barang ke seluruh wilayah Indonesia. Biaya tersebut, kata dia, kerap melebihi harga produksi itu sendiri.

Efisiensi pengangkutan barang juga ia nilai masih rendah. Faisal mencatat, pergerakan kapal angkut di berbagai pelabuhan di Indonesia per-jamnya terbilang rendah dibanding negara-negara tetangga. (*)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved