Menganalisis Pemaknaan Hadis-Hadis Mukhtalif, Irfan Helmy Raih Doktor

Ilmu Mukhtalif al-Hadis yang dirumuskan asy-Syafi'i merupakan bagian ilmu hadis yang dapat dikaji dengan perspektif sosiologis-historis.

Penulis: baskoro | Editor: baskoro

           YOGYA, TRIBUN - Muhammad Irfan Helmy, Lc. , MA. , (40 tahun) mengatakan, studi tentang hadis yang memfokuskan pada dimensi sosiologis-historis perlu dilakukan untuk menggali perspektif lain dari ilmu hadis itu sendiri.
           Ilmu Mukhtalif al-Hadis yang dirumuskan asy-Syafi'i merupakan bagian ilmu hadis yang dapat dikaji dengan perspektif sosiologis-historis. Studi tentang metode asy-Syafi'i dalam pemaknaan hadis-hadis mukhtalif termasuk studi yang layak dieksplorasi lewat perspektif sosiologis-historis. Hal ini bukan hanya karena asy-Syafi'i menulis sebuah karya khusus yang disebut Ikhtilaf al-Hadis, tetapi juga karena studi hadis perspektif ini relatif belum banyak dilakukan para praktisi studi hadis. Studi-studi atas pemikiran hadis asy-Syafi'i masih terbatas pada aspek substantif, belum banyak menyentuh dimensi sosiologis-historis.
            Hal ini menggugah dosen STAIN  Salatiga ini untuk melakukan riset tentang pemaknaan hadis-hadis mukhtalif dalam perspektif sosiologis-historis dengan metode deskriptif-analitis. Hasil studi riset putra kelahiran Ciputat ini diangkat menjadi karya disertasi untuk meraih gelar Doktor Bidang Ilmu Agama Program Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga, dengan mengambil judul "Pemaknaan Hadis-Hadis Mukhtalif Menurut Asy-Syafi'i - Tinjauan Sosiologis Pengetahuan" dan dipresentasikan di ruang promosi doktor, Convention Hall kampus UIN Sunan Kalijaga, Kamis, 20 Maret 2014.
          Di hadapan tim penguji yang terdiri atas Dr. H.M. Alfatih Suryadilaga, M. Ag., Dr. Octoberriansyah, M. Ag., Prof. Dr. H. Nasruddin Harahap, SU., Dr. Hamim Ilyas, MA., Prof. Dr. H. Suryadi, M. Ag., (promoter merangkap penguji), Dr. Phil Sohiron Syamsuddin, MA., (promoter merangkap penguji), Irfan Helmy memaparkan, dari analisis riset disertasinya, pihaknya dapat mengungkap bahwa, dalam struktur logis pemikiran asy-Syafi'i tentang hadis Nabi Muhammad SAW, pemaknaan hadis-hadis mukhtalif dengan metode yang dirumuskannya, merupakan bagian tidak terpisahkan dari gerakan mengkonter para penghujat hadis agar eksistensi hadis sebagai hujjah dapat dipertahankan sepanjang masa. "Untuk tujuan itu, bagi asy'Syafi'i,  ikhtilaf yang terjadi antar hadis hanyalah ikhtilaf zahiri, bukan ikhtilah haqiqi," katanya.
           Sementara itu, kepentingan utama asy-Syafi'i dalam merumuskan metode ilmu Mukhtalif al- Hadis adalah mempertahankan eksistensi hadis, terutama hadis ahad sebagai sumber hukum Islam. Disamping itu, perumusan ilmu Mukhtalif al-Hadis,  asy-Syafi'i  berkepentingan untuk menegaskan kebebasan dalam berijtihad dan menolak taqlid, membebaskan ulama dan intelektual dari intervensi kekuasaan, merumuskan sintesis dari pertentangan antar aliran pemikiran dalam memahami teks-teks keagamaan dan mensistematisasi metodologi ilmu-ilmu keislaman terutama ilmu-ilmu hadis. (bm)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved