Harga Cabai Rawit di Purworejo Tembus Rp 80 ribu Per Kg

Beberapa pekan setelah hujan abu mengguyur wilayah Purworejo, dampaknya masih terasa hingga sekarang.

Penulis: Rento Ari Nugroho | Editor: tea

Laporan Reporter Tribun Jogja, Riento Ari Nugroho

TRIBUNJOGJA.COM, PURWOREJO  - Beberapa pekan setelah hujan abu mengguyur wilayah Purworejo, dampaknya masih terasa hingga sekarang. Satu contohnya adalah melambungnya harga cabai rawit akibat banyak tanaman cabai mati terkena abu vulkanik. Pekan ini harga cabai rawit bahkan sempat menyentuh harga Rp 80 ribu per kilogram.

Seorang pedagang sayuran di pasar Kongsi Purworejo, Hj Musinah Abdulmajid (54) mengatakan, pekan ini harga cabai rawit mengalami kenaikan tertinggi. "Hari ini sekilonya Rp 60 ribu, sedangkan tiga hari lalu mencapai Rp 80 ribu. Ini sudah lumayan menurun," katanya ketika ditemui di kiosnya, Jumat (7/3/2014).

Musinah menjelaskan, berdasarkan informasi dari pemasok sayur langganannya dari luar Purworejo, kenaikan harga disebabkan banyaknya tanaman cabai yang mengering dan mati akibat abu gunung Kelud. Menurunnya ketersediaan cabai yang bersamaan dengan naiknya permintaan membuat kenaikan harga tak terhindarkan lagi.

Seorang pedagang lain, Jumiyem (65) mengatakan, untuk pasokan dari Purworejo, umumnya kenaikan harga tidak terlalu signifikan. Pekan ini kenaikan harga tertinggi sekitar Rp 50-60 ribu saja.

"Itu harga cabai yang ngambil dari Purworejo. Nggak terlalu mahal, ini malah mulai turun jadi Rp 44 ribu," katanya.

Kenaikan harga cabai ini berdampak pada usaha warung makan. Beberapa pemilik warung makan di Purworejo mengeluhkan kenaikan ini. Untuk menyiasatinya, mereka melakukan sejumlah langkah.

Satu contohnya adalah apa yang dilakukan Gatot S (45) pemilik warung Mie Ayam di kawasan Pantok Purworejo. Untuk menyiasati kenaikan harga cabai, ia terpaksa mengurangi porsi cabai rawit dalam sambal yang disediakannya.

"Sementara ini porsi sambal kami tambahkan campuran cabai keriting. Harga cabai rawit yang terlalu tinggi membuat kami kesulitan," katanya.

Hal senada diungkapkan oleh Fitri (33), pemilik usaha warung lotek di Kampung Pandekluwih Kelurahan/kecamatan/Kabupaten Purworejo. Kini ia mengurangi porsi cabai dalam jualannya.

"Sekarang kalau ada pembeli yang minta cabai lebih dari tiga, saya naikkan harganya. Ya mau bagaimana lagi, satu ons saja sudah Rp 6 ribu," katanya.

Sementara itu, berdasarkan pantauan Dinas Koperasi Perindustrian Perdagangan dan Pariwisata (Diskopperindagpar) Purworejo, kenaikan harga cabai rawit merata di beberapa pasar besar di Purworejo. "Harga cabai pekan ini rata-rata Rp 50-60 ribu per kilogram," jelas staff Bidang Perdagangan Diskopperindagpar Purworejo, Khusen.

Di tempat yang sama, Kepala Diskopperindagpar Purworejo, Dra Suhartini MM mengatakan, pihaknya berharap masyarakat tidak terlalu mengkhawatirkan dampak kenaikan harga cabai ini. Sebagai bahan makanan yang bukan pokok, pihaknya berharap masyarakat dapat menahan diri dan mengurangi konsumsi cabai.

"Kami harap masyarakat dapat memahami kondisi ini dan bersabar. Layaknya hukum pasar, permintaan tinggi sementara pasokan terbatas tentu memicu kenaikan harga," katanya.(toa)

Skandal Kuliner Terkait :
Bakpia Tidak Asli Merajalela di 7 Titik Penting di Yogya

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved