Batik Prodo Merambah Dunia Fesyen

Tak banyak perajin batik prodo yang terus berlanjut memproduksi batik ini

Tayang:
Penulis: Yudha Kristiawan | Editor: Rina Eviana Dewi

PERNAH melihat lenggak-lenggok model berjalan di atas cat walk sembari mengenakan busana glamour rancangan desainer ternama berbahan kain batik berkilauan emas, dengan paduan warna-warni terang? Bisa jadi, batik yang dikenakan model tersebut adalah buah dari ketekunan salah satu perajin batik prodo asal Dusun Brajan, Wonokromo Bantul. Batik prodo adalah sebutan untuk kain batik yang dilapisi prodo. Sementara prodo sendiri adalah teknik melapisi kain batik yang sudah jadi dengan semacam bahan kimia yang mirip digunakan cetak sablon.

Saat ini, tak banyak perajin batik prodo yang terus berlanjut memproduksi batik yang awalnya lebih banyak digunakan untuk keperluan busana pengantin adat Jawa ini. Siang menjelang sore Jumat,( 28/2/2014), di sebuah rumah sederhana terlihat ibu-ibu menulis mengikuti pola tertentu sembari sesekali menengadahkan kepalanya. Yang lain, ada yang menjemur beberapa lembar kain batik di teras rumah.

Ya, di rumah Sajinah (55) ini lah kegiatan produksi batik prodo masih berlanjut. Sajinah sendiri adalah satu perajin dari Dusun Brajan yang mampu bertahan hingga saat ini.
Kerap Sajinah kedatangan pembeli dari luar kota, Jakarta, Semarang, Bandung hingga luar pulau. Di antara mereka, dulunya banyak yang hanya membeli untuk keperluan baju adat pengantin. Seiring tumbuh suburnya dunia fesyen  tanah air, belakangan pembeli batik prodo buatan Sajinah adalah para desainer.

"Tadi barusan ada dari Jakarta beli. Tapi bukan untuk keperluan baju pengantin. Saya tahunya itu lho yang merancang baju, desainer ya. Sudah sering mereka kemari, nantinya dibuat baju untuk model," terang Sajinah.

Ditanya sejarah batik prodo, Sajinah mengaku tidak tahu persis awalnya dulu dari mana teknik ini didapat. Yang jelas, ia mendapatkan ilmu ini dari seseorang yang dulunya hanya memintanya membuatkan batik yang disebut batik prodo ini.

Beberapa literatur yang membahasa sejarah batik, disebutkan panjang lebar. Salah satunya bahkan memberikan informasi bahwa batik secara luas itu tak hanya dimiliki Indonesia. Namun, belakangan UNESCO mengukuhkan batik sebagai warisan budaya lisan dunia dan non-bendawi (Intengable Culture Heritage Humanity) yang berasal dari Indonesia.

Namun demikian, lepas dari pengukuhan tersebut, konsep sederhana perajin batik prodo seperti Sajinah adalah ia mampu bertahan dengan pekerjaan tradisionalnya sehingga bisa mencukupi kebutuhan keluarga.

Sebelum diproses sehingga disebut batik prodo, kain batik sendiri sudah dianggap memiliki nilai estetika yang tinggi dengaan berbagai macam motifnya, seperti, motif parang, truntung, dan wahyu dengan filosofi masing-masing dibalinya.

Secara visual batik prodo memiliki motif yang sama dengan batik biasa. Hanya saja, motif tersebut kemudian dilapisi warna sesuai keinginan tanpaa mempertimbangkan lagi unsur makna. Bisa jadi, bila diwacanakan dalam ranah seni visual, justru termasuk seni kontemporer.

Dari kain lembaran batik berbagai motif dan jenis batik, ada batik tulis dan cap, kemudian diproses sehingga menghasilkan tampilan baru yang sama sekali berbeda dan meninggalkan kesan monochrome batik kebanyakan.

Sajinah menjelaskan, pembuatan batik prodo dimulai dengan yang disebutnya menulis ulang motif yang sudah ada dengan semacam adonan bahan kimia yang mirip dengan lem kayu. Selanjutnya adalah proses blok warna sesuai dengan komposisi pesanan atau keinginan desain.

"Setelah dijemur kemudian diblok, baru dilapisi gliter dengan cara menaburkan ke atas kain lalu digosok," ujar Sajinah sambil mempraktekkan.

Usaha batik prodo Sajinah, hingga saat ini masih bergantung pada terik sinar matahari. Sebab, semua proses pengeringan masih dilakukan secara manual dengan bantuan penjemuran.

Semakin banyak kombinasi warna, maka pengerjaan akan bertambah lama dan memiliki tingkat kesulitan yang tinggi. Dijelaskan, Yuana anak ke dua Sajinah yang turut membantu usaha ini, bahwa kegagalan dalam setiap proses akan selalu terjadi bila tidak ada ketelitian, kesabaran dan ketekunan dari perajin.

"Misalnya pas proses awal menulis motif, kalau ngga pas, maka akan mbleber (tidak rapi). Belum kalau dari adonan sudah tidak bagus, itu bisa gagal. Terus pas ngeblok warna, kalau ngga sabar bisa nggak rata dan itu bisa dianggap gagal," ungkap Yuana.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved