Magelang Masih Kekurangan Sabo Dam Penahan Lahar Hujan
sabo dam tersebut berfungsi untuk menahan material lahar hujan Merapi
Penulis: Agung Ismiyanto | Editor: Mona Kriesdinar
Laporan Reporter Tribun Jogja, Agung Ismiyanto
TRIBUNJOGJA.COM, MAGELANG - Sebanyak 68 sabo dam yang berfungsi untuk menahan banjir lahar dingin telah diselesaikan Balai Besar Wilayah Sungai Serayu dan Opak (BBWSSO) hingga tahun 2013 ini. Dengan jumlah tersebut, masih ada sekitar sembilan sabo dam dari 77 sabo dam yang rusak pasca banjir lahar hujan.
Kepala BBWSSO, Agus Suprapto mengatakan, dari jumlah 68 sabo dam yang sudah dibuat pasca erupsi Merapi 2010 tersebut, 44 diantaranya dibuat pada tahun 2012. Sementara, 24 sabo dam lainnya dibuat pada tahun 2013.
"Kira-kira masih kurang sembilan sabo dam dari 77 buah yang rusak terkena lahar dingin," ujarnya saat pembukaan Sabo dam Oprit Srowol, Mungkid, Mungkid, Minggu (15/12/2013).
Rehabilitasi dan pembuatan sabo dam khususnya di sungai-sungai yang berhulu di Merapi sangat penting. Sebab, sabo dam tersebut berfungsi untuk menahan material lahar hujan Merapi.
Selain itu, beberapa sabo dam yang dibuat dengan adanya jembatan merupakan fungsi tambahan. Seperti sabo dam oprit Srowol, Desa Progowati, Kecamatan Mungkid, merupakan sabo dam yang berfungsi sebagai akses penghubung Desa Adikarto, Kecamatan Muntilan dan Desa Progowati, Kecamatan Mungkid.
"Nantinya, juga berfungsi sebagai akses jalan bus wisata yang akan menuju ke candi Mendut atau Borobudur dari arah Yogyakarta. Namun, untuk truk material tidak boleh melintas, karena kekuatan sabo dam hanya 8 ton," ulasnya.
Pihaknya juga memperkenalkan fungsi sabo dam bukan hanya sebagai penahan banjir lahar hujan dengan kegiatan mancing bersama yang diikuti ribuan peserta. Kegiatan mancing di sabo dam tersebut bertemakan Ekowisata Sabodam. Sekitar lima kuintal ikan konsumsi dan benih berbagai jenis diantaranya nila, tawes, lele dan bawal ditebar di sungai Pabelan tersebut.
"Masyarakat pun bisa memanfaatkan sabo dam secara lebih besar, antara lain untuk, sarana transportasi, pengairan untuk lahan pertanian di sekitar hingga tempat rekreasi," katanya.
Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) Pengendali Lahar Gunung (PLG) Merapi, Dwi Purwanto menambahkan, Sabo dam oprit Srowol tersebut dibuat dengan panjang 120 meter dengan lebar enam meter. Sementara, untuk nilai proyeknya menelan anggaran sekitar Rp 13,8 Milyar dari dana APBN dengan pelaksana proyek Waskita dan Brantas.
"Kami akan berkoordinasi untuk memasang rambu-rambu larangan truk material yang melintas," jelasnya.
Pihaknya juga meminta kepada masyarakat yang ada di sekitar Sabo DAM, agar memiliki rasa memiliki dan menjaga Sabodam itu. Seperti tidak mencorat-coret atau mengambil insfrastruktur Sabo DAM.
"Termasuk, penambangan juga jangan di sabo dam ini. Karena kalau rusak, fungsinya untuk mengendalikan material lahar menjadi tidak maksimal," tandasnya. (ais)