Seni dan Budaya

Sanggar Anak Desa Aktif Bentengi Pengaruh Negatif Globalisasi

Sanggar dengan mana Lare Mentes itu merupakan sarana bagi anak-anak di desa itu ataupun desa lainnya untuk berkegiatan positif sembari belajar

Penulis: oda | Editor: Mona Kriesdinar
TRIBUNJOGJA.COM/OBED DONI ARDIYANYO
Anak-anak Sanggar Lare Mentes bermain musik akustik dari bambu dalam pembukaan ulang tahun ke 7 sanggar tersebut di Desa Towangsan, Gantiwarno, Klaten 
Laporan Reporter Tribun Jogja, Obed Doni Ardiyanto

TRIBUNJOGJA.COM, KLATEN - Berkegiatan positif sambil mengekplorasi keterampilan perlu dilakukan oleh anak-anak jaman sekarang. Kemajuan teknologi dan keterbukaan informasi terkadang dapat memberikan efek negatif pada anak. Apalagi jika mereka bergaul dengan lingkungan yang negatif.

Hal itulah yang mungkin menjadi dasar dibentuknya sebuah sanggar anak di Desa Towangsan, Kecamatan Gantiwarno. Sanggar dengan mana Lare Mentes itu merupakan sarana bagi anak-anak di desa itu ataupun desa lainnya untuk berkegiatan positif sembari belajar.

“Lare Mentes. Lare merupakan bahasa jawa yang artinya anak-anak. Sedangkan mentes itu ibarat pada yang berisi atau berbuah. Anak-anak yang tergabung dalam sanggar ini diharapkan menjadi anak-anak yang bermutu dan berkualitas. Mereka ingin belajar apapun disini tidak dipungut biaya. Karena ini bentuk kepedulian kaum muda-mudi di sini,” tutur penasehat Sanggar Lare Mentes, Bin Suharto, di Klaten, Jumat (6/9/2013).

Bin mengatakan sanggar tersebut menerima aspirasi dari anak-anak yang bergabung untuk belajar sesuatu yang diinginkan. Mulai dari belajar kesenian, ketrampilan, komputer, hingga dibantu belajar pelajaran sekolah. “Kita tidak hanya ingin mengajak anak untuk belajar dan berkegiatan positif, namun juga mendidik mereka untuk peduli dengan lingkungan,” tuturnya.

Sanggar tersebut, hari ini, Jumat (6/9/2013) merayakan ulang tahunnya ke tujuh. Perayaan ulang tahun tersebut dirayakan dengan sederhana, namun mengeksplorasi ketrampilan yang telah dipelajari sekitar 30 lebih anak-anak yang bergabung dalam sanggar itu. Kegiatan ulang tahun denga tema Memayu Hayuning Desa itu akan dilakukan selama dua hari.

“Ulang tahun ini akan menjadi ajang eksplorasi terhadap apa yang mereka pelajari selama ini di sanggar ini. Mereka akan menghibur, baik dari anak-anaknya hingga pembinanya akan memberikan pertunjukan bagi warga sekitar serta menunjukkan bagi orangtua mereka tentang ketrampilan yang mereka dapatkan,” jelas Bin Suharto

Pada hari pertama acara ulang tahun sanggar tersebut, anak-anak Sanggar Lare Mentes menunjukkan kepiawaian mereka bermain alat musik akustik, bersama kakak-kaka pembimbing mereka. Meski singkat dengan menggunakan alat sederhana, namun kekompakan dan kemeriahan terlihat dalam acara pembukaannya.

Kemudian acara tersebut dilanjutkan dengan sesi Rembug Lare yang melatih anak-anak untuk mengungkapkan ide yang membangun di depan banyak orang. Hari selanjutnya, Sabtu (7/9/2013) atau hari ini, akan dilanjutkan dengan karnaval, pertunjukan theater, dan pentas seni lainnya.

Sementara itu, Ketua Sanggar Lare Mentes, Bayu Aji Prasetyo (18), mengaku dirinya sebelum menjadi pengurus, merupakan salah satu anak yang didik kakak pembina di sanggar tersebut. Menurutnya, selain belajar berbagai hal, dia juga belajar berorganisasi.

“Jujur saya dulu takut untuk berbicara di depan umum. Namun kini saya belajar berbicara di depan umum dan berlatih berorganisasi. Sanggar ini non profit dan kita mengadakan acara ini mencari dana dengan mengamen di Car Free Day. Kita dilatih untuk peduli dengan lingkungan sekitar tanpa mengharapkan balasan apapun,” tuturnya.

Acara ulang tahun tersebut tidak hanya diadakan di Sanggar Lare Mentes di Desa Towangsan, Kecamatan Gantiwarno. Namun, mereka juga mendirikan panggung di area sawah yang berada di depan sanggar untuk pertunjukan kesenian. Area panggung itu dihiasi dengan orang-orangan sawah yang terbuat dari jerami. (oda)

Berita Terkait
  • Ikuti kami di
    AA

    Berita Terkini

    © 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved