47 Siswa SD di Klaten Ikut Lomba Dongeng Bahasa Jawa

47 Siswa Sekolah Dasar di Kabupaten yang beradu kecakapan mendongeng dengan Bahasa Jawa, yang bertajuk Festival Dongeng Bahasa Jawa

Penulis: oda | Editor: Joko Widiyarso
Laporan Reporter Tribun Jogja, Obed Doni Ardiyanto

TRIBUNJOGJA.COM, KLATEN - Sejumlah 47 Siswa Sekolah Dasar di Kabupaten yang beradu kecakapan mendongeng dengan Bahasa Jawa, yang bertajuk Festival Dongeng Bahasa Jawa, di Pendopo Monumen Juang 45 Klaten, Rabu (29/5/2013). Kegiatan lomba yang diadakan Dinas Kebudayaan Pariwisata Pemuda dan Olahraga (Disbudparpora) Klaten itu bertujuan untuk melestarikan kebudayaan Indonesia khususnya Bahasa Jawa, dan dongeng.

“Dongeng atau mendongeng, saat ini sudah hampir terlupakan. Dari mendongeng dapat timbul kreatifitas baik dalam bercerita ataupun membuat sarana bercerita sehingga menumbuhkan imajinasi anak dalam berkreasi. Dongeng-dongeng khas Indonesia perlu juga dilestarikan karena dari dongeng kita terutama anak-anak mendapatkan nilai atau pesan moral,” tutur Ketua Panitia kegiatan tersebut, Atiek Widiastuti, kepada Tribunjogja.com, di Klaten, di Klaten, Rabu (29/5/2013).

Salah seorang peserta lomba tersebut, Ayu Choirul Rohmah (10), siswi kelas 5 SD Negeri Gesikan, mengaku senang dapat mengikuti perlombaan itu. Sebelum mengikuti lomba dongeng dia mempersiapkan media untuk menceritakan kisah Rawa Pening.

“Saya persiapannya tiga hari. Mulai dari menghafalkan teks cerita dan membuat peralatan yang saya gunakan sebagai sarana untuk bercerita, seperti caping yang diberi daun pohon cemara, dan ular-ularan dari kain batik ini,” tuturnya seusai berdongeng di depan juri dan peserta lainnya.

Sementara itu, Kepala Disbudpora Klaten, Sugeng Haryanto, mengatakan, lomba yang diadakan instansinya tersebut merupakan sarana mempertahankan budaya. Dengan adanya lomba-lomba atau kegiatan budaya yang bermacam-macan, maka antusiasme masyarakat untuk terus mempertahankan kebudayaan Indonesia, khususnya Jawa, dapat terus tumbuh.

“Saat ini Indonesia mengalami krisis jati diri, ideologi, moral, dan budaya. Untuk mengatasi krisis budaya Jawa, khususnya di Klaten, maka kita mengadakan lomba-lomba dengan bahasa Jawa. Jangan sampai kita kalah dengan bangsa-bangsa yang industrinya maju, namun kebudayaannya tetap terus dipertahankan,” tuturnya. (*)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved