Siswa Sekolah Internasional Keasyikan Membajak Sawah

Sekitar 30 murid Raffles Christian School dari Jakarta Selatan sedang menggelar learning journey Yogyakarta Rafless International School

Penulis: Agung Ismiyanto | Editor: Joko Widiyarso
Laporan Reporter Tribun Jogja, Agung Ismiyanto

TRIBUNJOGJA.COM, MAGELANG - Sekitar 30 murid Raffles Christian School (Sekolah Kristen Internasional Raffles) dari Jakarta Selatan sedang menggelar learning journey Yogyakarta Rafless International School (wisata belajar sekolah internasional Raffles). Mereka sengaja memilih areal persawahan Mendut, Mungkid untuk tempat mereka belajar dan mengenal lingkungan serta kehidupan petani, Selasa (19/3/2013).

Meski belepotan dengan lumpur sawah, siswa tampak senang. Hal itu lantaran, suasana pedesaan tidak dapat ditemukan di lingkungan tempat tinggal dan sekolahnya yang termasuk dalam lingkup kawasan metropolitan.

Salah seorang peserta, Aiswara mengaku ketagihan bermain di areal persawahan. Gadis berusia 16 tahun ini sangat menikmati petualangan barunya belajar membajak sawah dengan kerbau dan menanam padi di areal persawahan Desa Mendut, Kecamatan Mungkid.

“Ini pertama kalinya saya menyentuh sawah dan pengalaman ini sungguh menarik. It was so fun (sangat menyenangkan),” ungkap gadis berkebangsaan India ini, Selasa (19/3/2013) pagi.

Pagi itu, sekitar 30-an siswa sekolah internasional Raffles belajar membajak sawah yang masih dilakukan secara tradisional dengan menggunakan kerbau. Mereka tampak senang saat bisa mengendalikan dua kerbau dengan dipandu petani Desa Mendut. Beberapa di antaranya bahkan terlihat asyik ikut membajak sawah.  

Selain membajak sawah, puluhan siswa tersebut kemudian melanjutkan untuk belajar menanam padi di areal sawah yang berukuran 5 x 15 meter. Beberapa siswa terlihat kesulitan untuk menanam padi dengan teratur.

“Ya dengan kegiatan belajar seperti ini, siswa dapat mengetahui susahnya menanam padi. Termasuk proses-proses dalam bersawah. Namun kelihatannya mereka sangat asyik dan enjoy,” jelas Guru Sejarah dan Geografi, Sekolah Internasional Raffles, Sahida yang ikut mendampingi siswa tersebut.

Sahida mengatakan, ada 32 murid yang terlibat dalam learning journey Yogyakarta Rafless International School ini. Pesertanya terdiri dari umur 13 hingga 15 tahun. “Dengan kegiatan ini, mereka bisa belajar banyak hal tentang petani dan lingkungan pedesaan. Setelah ini kami akan menangkap ikan,” lanjutnya.

Kegiatan yang dilakukan siswa tersebut merupakan paket ekowisata Borobudur berbasis proses pertanian tradisional, yang ditawarkan oleh masyarakat Mendut, Kecamatan Mungkid dan diorganisasi oleh the Joglo family Hotel and Homestay. Gagasan dan ide untuk mengajak wisatawan terjun langsung ke sawah. Wisatawan juga berinteraksi langsung dengan petani dan lingkungan sawah untuk pembelajaran tentang proses dan produk peradaban pertanian tradisional.

“Melakukan aktivitas pertanian bagi masyarakat sekitar Borobudur mungkin menjadi hal yang biasa. Namun bagi masyarakat metropolitan dan turis asing ini menjadi sesuatu yang unik dan pengalaman tak terlupakan,” jelas pemilik the Joglo Family Hotel dan Homestay, Habib Syafingi.

Paket wisata yang dikembangkan ini, ujar Habib bisa menjadi bagian wisata dan edukasi. Sementara segmen yang dibidik adalah pelajar baik domestik dan asing. Termasuk juga melayani wisata keluarga.

“Selain itu juga untuk melestarikan kegiatan pertanian tradisional. Selama puluhan abad pertanian tradisional yang berkembang di Jawa menjadi bagian dari peradaban manusia. Semua wisatawan bisa belajar tentang peradaban ini,” jelasnya. (*)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved