Protes Komersialisasi Gedung Kesenian Haryanto Djee di Hari Ibu

Kegelisahan ibu dari segala ibu ternyata tak mampu mendongkel kapitalisme dari muka bumi Bagelen.

Penulis: Rento Ari Nugroho | Editor: Rina Eviana Dewi

Kegelisahan ibu dari segala ibu ternyata tak mampu mendongkel kapitalisme dari muka bumi Bagelen. Itulah rupanya yang ingin disampaikan oleh dua seniman teater Purworejo, Haryanto Djee dan Mukri Budiono dalam happening art di halaman Gedung Kesenian Purworejo, Sabtu (22/11/2012). Di sela proses penyelesaian pembangunan gedung, keduanya merayakan hari ibu seraya memrotes pembangunan gedung kesenian yang dibangun tanpa melibatkan seniman.

WALAU panas karena matahari bersinar terik, keduanya berjalan gagah dari kawasan jalan Pahlawan menuju jalan Oerip Soemohardjo, tempat Gedung Kesenian Purworejo berada. Haryanto berperan sebagai Nyai Bagelen, seorang tokoh leluhur tanah Bagelen, kebudayaan yang mengawali keberadaan Purworejo. Tak kalah gesit, Mukri berperan sebagai Ksatria penolong Nyai Bagelen.

Penampilan keduanya yang berdandan bak seorang putri raja yang dikawal ksatria tak pelak menarik perhatian banyak orang. Simpang empat pertemuan jalan Pahlawan dan Oerip Soemohardjo kemudian ramai oleh pemakai jalan yang berhenti untuk menikmati suguhan tengah hari tersebut.

Tokoh Nyai Bagelen dan Ksatria tersebut kemudian beraksi di depan patung dolalak di sudut utara gedung. Diawali dengan rapalan doa, mereka menyajikan happening art ala seniman Purworejo.

"Hitaaaam.... semua hitaaaam!" teriak Ksatria sambil menatap patung dolalak yang menghitam karena terbuat dari batu andesit.

"Inilah kesenian yang hancur oleh kapitalisme! Kehidupan rakyat yang terinjak!" seru Nyai Bagelen menimpali.

Setelah menari-nari mengelilingi patung dolalak, keduanya kemudian beraksi bagaikan mendorong patung dolalak untuk merobohkannya. Upaya pertama oleh Nyai Bagelen gagal. Meski telah mengerahkan tenaga dalamnya, sang Nyai terlempar. Sang Ksatria kemudian turun tangan dan membantu,. Namun upaya ini pun tidak berhasil. Keduanya terlempar dari sang patung.

"Inilah kapitalisme, bahkan kekuatan rakyat dalam seni tidak bisa meruntuhkannya. Ibu dari segala ibu pu tidak sanggup meruntuhkan kesombongan kapitalisme!" jerit Nyai Bagelen kepada para penonton yang berkerumun semakin banyak. Bahkan para pekerja bangunan yang sedang bekerja pun menghentikan aktivitasnya untuk menonton aksi tersebut.

Sang Ksatria yang terkapar bersama Nyai Bagelen kemudian bangkit dan menolong sang Nyai berdiri. Itulah akhir pertunjukan yang disambut riuh tepuk tangan penonton.

Kepada para wartawan Haryanto menjelaskan, aksi happening art ini dilakukannya didorong oleh keprihatinannya yang mendalam terhadap pembangunan gedung kesenian Purworejo. Menurutnya, gedung yang seharusnya mewakili ekspresi rakyat dalam seni ternyata tidak mewakili rakyat.

"Ini momen hari Ibu yang dijadikan sarana seniman untuk menyampaikan isi hatinya terhadap gedung kesenian Purworejo. Ini gedung rakyat, tapi kenapa tidak dibuat mewakili kepentingan rakyat? Ini malah jadi murni bisnis, jadi kapitalis," ujar Haryanto. Ia menyesalkan upaya pemerintah daerah yang membangun Gedung Kesenian tanpa melibatkan seniman Purworejo.

Pria kurus berambut gondrong ini menuturkan, melalui  aksi Teater Mini Kata, ia berusaha menggambarkan sosok Nyai Bagelen sebagai ibu segala ibu bumi Bagelen. Melihat angkara murka yang merajalela, sang Nyai turun tangan untuk memberikan peringatan. Namun upaya sang Nyai tidak berhasil karena kapitalisme terlalu kuat.

"Negara ini tidak boleh jadi kapitalis karena nyawa yang sebenarnya adalah nasionalis dan idealisme. Kita harus bertanggung jawab pada ibu pertiwi," ujarnya.

Aksi yang sempat mengejutkan para pekerja ini ternyata menjadi hiburan tersendiri untuk para pekerja tersebut. Sukardi (60) seorang pekerja bangunan asal Desa Gintungan kecamatan Gebang Kabupaten Purworejo mengungkapkan, ia mengapresiasi upaya seniman tersebut.

"Ini kan gedung kesenian, lumrah kalau seniman ingin tampil. Saya sih senang aja melihatnya. Hitung-hitung untuk hiburan di sela kerja," jelasnya.

Arif Sulistyo (25) seorang pemakai jalan yang mengabadikan aksi Haryanto dengan telepon selulernya mengungkapkan, ia senang melihat aksi tersebut. Menurutnya, aksi tersebut menunjukkan dunia seni di Purworejo terus hidup dan berkembang.

"Awalnya agak kaget. Tapi senang karena jarang-jarang ada aksi seperti ini. Apalagi ini mengangkat budaya Purworejo," jelasnya.(Rento Ari Nugroho)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved