Tren Kain Jumputan

Shesty Koleksi Kain Jumputan Palembang

Busana dari bahan kain jumputan tak cuma bisa dipakai sebagai pakaian resmi saja, namun untuk acara cocktail pun bisa.

Penulis: tea | Editor: rap
Laporan Reporter Tribun Jogja, Theresia T. Andayani

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Busana dari bahan kain jumputan tak cuma bisa dipakai sebagai pakaian resmi saja, namun untuk acara cocktail pun bisa. Salah seorang penggemar fesyen, A. Swastikarany memandang jumputan sebagai hasil karya fashion yang indah.

Menurutnya, kain jumputan tersebut tak monoton berupa kain dengan satu warna saja. Melainkan sudah diberi motif dengan cara mengikat kain kemudian dicelup dengan warna. "Kalau disuruh memilih jenis kain, aku lebih pilih jumputan ketimbang songket karena jauh lebih nyaman," ucap Shesty sapaannya, kepada Tribun Jogja, Senin (22/10).

Bicara soal kain jumputan, Shesty punya satu kain jumputan klasik dari Palembang. Kain itu adalah pemberian dari sang Bunda yang memang asli Palembang. Hadiah tersebut diberikan karena ingin anaknya bisa menghargai identitas budaya Palembang. Koleksi jumputannya dari bahan shiny, yakni ungu, dengan padanan pink dan putih. Sehingga bisa dipakai untuk acara semi formal. Dan ia kerap memakainya untuk  acara keluarga. "Aku suka banget warnanya, so colorful Dulu aku selalu pake tiap acara resmi untuk jadi kain, dipadanin sama kebaya encim polos," ucap cewek berambut panjang ini.

Menurut Shesty, ia tak memanfaatkan kain jumputan sebagai dress, karena warnanya yang terlalu ngejreng. Jadi lebih baik ia padukan sebagai bawahan saja, berupa rok agar bisa dipadankan dengan busana tanpa motif. Selain untuk even resmi, juga bisa dipakai untuk acara bernuansa cocktail. "Waktu show APPMI kemarin aku nggak melihat ada kain jumputan yang semacam itu," kata Manager Yo Cafe ini.

Sebab yang ia punya teksturnya lebih spesifik. Dimana  kainnya berbentuk cubitan cubitan sehingga membuat kain tampak eksotik. Kalau material bahannya terbuat dari sutra. Itulah yang membuat ia suka dengan jumputan, karena kalau songket tekstur kainnya kaku dan bahannya tidak jatuh dan malah cenderung panas.

"Harus dikasih furing katun supaya lebih nyaman dipakainya dan kalau songket itu kesannya lebih formal, cuma cocok dipake untuk acara nikahan. Sebelnya mamaku selalu paksa untuk pake songket tiap ada sodara dekat yang nikah, terpaksa deh," keluhnya.

Shesty mengaku suka dengan koleksi jumputan karya Designer Phillip Iswardono. Tapi sayang, koleksi yang dipakainya untuk fashion show sudah laku. Sehingga dia pesan busana lain dari bahan lurik. "Nanti aja kalau lagi butuh aku bikin busana dari kain jumputan deh," ujarnya.

Selain kain jumputan, Shesty mengidolakan batik sebagai pakaian sehari-hari. Sejak jaman kuliah sampai sekarang ia suka memakai batik, sampai pernah dibilang turis.  Menurutnya batik-batik sekarang lebih nyaman dipakai, karena model dan motifnya sudah populer.

"Seringnya sih beli dress batik, dengan model loose dan asimetris. Aku sih lebih suka motif pesisiran dan juga batik lawasan biasanya aku beli di Toko Batik Cirebon di daerah Cokroaminoto modelnya lucu-lucu deh," pungkasnya. (tea).

 

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved