Masinis Tragedi Bintaro Berharap Uang Pensiun
19 Oktober 1987 pukul 07.05 WIB. Hari itu tidak akan pernah dilupakan Slamet Suradio (73)
Penulis: Rento Ari Nugroho | Editor: Joko Widiyarso
TRIBUNJOGJA.COM, PURWOREJO - 19 Oktober 1987 pukul 07.05 WIB. Hari itu tidak akan pernah dilupakan Slamet Suradio (73). Ketika itu, kereta yang dikemudikannya bertabrakan dengan satu kereta dari arah berlawanan. Akibatnya, tercatat 129 nyawa melayang, dan kerugian mencapai milyaran rupiah. Kecelakaan ini tercatat sebagai satu dari beberapa kecelakaan kereta api terburuk di Indonesia.
"Sebenarnya pagi itu saya tidak bertugas, saya hanya menggantikan rekan saya, Zainal Abidin yang sampai jadwal tugasnya belum datang," jelas Slamet ketika ditemui di rumahnya, Jumat (19/10/2012). Meski menjadi masinis pengganti, tetap saja tanggung jawabnya sama. Ia harus mengantarkan ratusan orang di pagi itu.
Slamet mengawaki KA 225 Jurusan Rangkasbitung-Jakartakota yang bertabrakan dengan KA Cepat 220 Jurusan Tanah Abang-Merak. Dalam kejadian ini Slamet dipersalahkan karena dianggap melanggar aturan dengan memberangkatkan kereta tanpa ijin Pemimpin Perjalanan Kereta Api (PPKA).
"Saya ingat jelas pagi itu kereta saya diberangkatkan. Saya melihat PPKA memberi tanda, asisten masinis telah naik ke kabin, dan kondektur pun telah masuk ke kereta," lanjut Slamet. Karena itu, ia kesal ketika tahu hanya dirinya saja yang dipecat dengan tidak hormat dan tidak mendapatkan uang pensiun, sementara orang yang menurutnya paling bertanggung jawab tetap mendapat uang pensiun.
Berbagai upaya telah dilakukan oleh Slamet untuk memperjuangkan haknya. Namun, upaya tersebut tidak berhasil. Kini ia hanya bisa pasrah menanti keadilan yang entah kapan datangnya.
Namun Slamet tidak patah dan tidak menyerah. Setelah merasa Ibu Kota terlalu kejam untuknya, ia memutuskan kembali ke kampung halamannya, Purworejo. Di tempat ini ia memulai hidup yang baru dan berhasil menikah kembali setelah istri pertamanya direbut rekan masinis. Dari pernikahan yang kedua ini ia dikaruniai tiga anak.
Untuk menyambung hidup, ia berjualan rokok eceran keliling di depan suatu toko di kawasan perempatan Kalianyar, Kutoarjo. Tempat berjualannya ini berjarak sekitar 17 km dari rumahnya yang sederhana di Dusun Krajan Kidul, RT 02/RW 02, Desa Gintungan, Kecamatan Gebang, Kabupaten Purworejo.
Memiliki anak yang masih sekolah tentu saja membuatnya kelabakan mencarikan biaya. Untung saja beberapa waktu yang lalu berbagai komunitas pecinta kereta api mengumpulkan dana untuk membantunya. Hasilnya, anak sulungnya kini telah lulus. Sekarang, ia hanya berpikir bagaimana biaya untuk kedua anaknya yang lain.
"Peristiwa 25 tahun yang lalu itu tidak akan pernah bisa saya lupakan. Selain itu sekarang saya hanya berdoa, agar saya pada akhirnya mendapatkan keadilan. Uang pensiun yang menjadi hak saya, semoga saya dapatkan," harapnya.
Tuginem (48) istri kedua Slamet mengungkapkan, kemalangan seakan belum mau menjauh dari keluarga mereka. Setelah mendapatkan bantuan dari para pecinta kereta api (railfans) berupa pembangunan rumah, modal kerja, dan beberapa ekor ayam, kini semuanya telah hilang.
"Sehabis mendapatkan bantuan itu, saya sakit keras sampai tujuh bulan. Terpaksa kami harus keluar masuk rumah sakit. Kini, uang bantuan tersebut habis untuk pengobatan," jelas Tuginem lirih.
Selain itu, beberapa ayam yang dibelikan oleh para railfans tersebut telah mati semuanya. Menurut Tuginem, ayam tersebut mati terkena flu burung. Tidak cukup itu, Slamet bahkan beberapa kali sakit karena tertabrak sepeda motor.
"Kalau tidak salah, sudah sekitar empat kali Bapak tertabrak motor. Akibatnya uang semakin habis untuk pengobatan. Bahkan, kalau Bapak lagi stres, rasa ngilu bekas kecelakaan kereta datang, membuat Bapak hanya bisa mengerang kesakitan," urainya.
Namun, Slamet tidak juga menyerah. Semangat pantang mundur itu ia wariskan kepada dua anak laki-lakinya. Bahkan, anak keduanya yang masih duduk di kelas tiga SMK bercita-cita menjadi masinis.
"Anak saya bilang, ingin meneruskan mimpi Bapaknya menjadi masinis yang baik. Lulus SMK dia mau mendaftar. Namun kini, saya pusingnya kelulusan dia dan adiknya yang duduk di kelas enam SD bersamaan. Tentunya semua butuh biaya banyak. Dalam kondisi Bapak seperti ini, dana dari mana?" tanya Tuginem. (*)