Sumber Air di Gua Seropan Gunungkidul

Menyusuri pahatan-pahatan alam di Gunungkidul menimbulkan sensasi yang berbeda. Melihat potensi air melimpah di balik kekeringan yang melanda

Tayang:
Penulis: Agung Ismiyanto | Editor: Joko Widiyarso
Laporan Reporter Tribun Jogja, Agung Ismiyanto

Menyusuri pahatan-pahatan alam di Gunungkidul menimbulkan sensasi yang berbeda. Melihat potensi air melimpah di balik kekeringan yang melanda di Gunungkidul membuka mata pada secercah harapan bagi masyarakat Gunungkidul. Harapan itu ada di dalam Gua Seropan yang terletak di dusun Ketonggo, desa Gombang, kecamatan Ponjong.

Aliran air cukup deras terdengar, saat tim penyusuran Gua Seropan yang dipandu oleh speleologis dari Acintyacunyata Speleological Club (ASC), Bagus Yulianto bersama dengan Tribun Jogja memasuki Gua sepanjang 888 meter tersebut. Gua Seropan merupakan sumber air minum di beberapa titik di Gunungkidul. Aliran airnya cukup deras mencapai 750 liter per detik.

Saat memasuki gua ini pertama kali, kita akan disambut dengan beberapa biota gua yang masih sangat alami. Dari pintu masuk gua tersebut, terdapat lorong-lorong dengan kerangka besi yang merupakan proyek Pemkab Gunungkidul untuk mengangkat potensi air dari dalam gua.

Setelah kurang lebih 50 meter, terdengar derasnya air mengalir di dalam gua. Saat semakin mendekat aliran air tersebut semakin menggoda untuk kita lihat. Benar, di dalam gua seropan terdapat sebuah bendungan air yang cukup deras. Menutu Aktivis Karst dan Speleologis ASC, Bagus Yulianto aliran air sungai bawah tanah tersebut yang mempu dimanfaatkan untuk kebutuhan air minum penduduk di sekitar Semanu, Ponjong dan beberapa wilayah Wonogiri.

Hal yang menarik yang ada di dalam gua tersebut adalah adanya air terjun dalam gua. Kita semakin penasaran untuk melihatnya. Namun, untuk mencapainya memerlukan waktu dan perjalanan menyusuri Gua dengan waktu sekitar 40 menit. Saat kita menyusuri gua seropan, air jernih dengan bebatuan yang indah memberikan sensasi tersendiri.

Stalaktit dan stalakmit eksotis yang masih hidup dan meneteskan butiran air semakin menambah rasa segar. "Nantinya, kita akan melihat air terjun yang sangat indah," ujar Bagus.

Rasa lelah terbayar, setelah menyusuri sungai bawah tanah dengan ketinggian 1,3 meter dan harus menaklukkan bebatuan di dalam gua. Sebuah air terjun di dalam gua dengan ketinggian sekitar 7 meter menyambut perjalanan. "Betapa sangat melimpahnya potensi air di Gunungkidul bukan," jelas Bagus.

Ia menjelaskan, di dalam gua Seropan terdapat sekitar dua air terjun yang sangat indah. Air terjun tersebut mengalirkan air dengan deras. Jarak antara air terjun satu dengan lainnya sekitar 100 meter. Untuk mencapainya, kita harus melewati arus sungai dan tetap harus berpegangan pada bebatuan, karena alirannya yang cukup deras.

Penyusur gua dapat beristirahat di bebatuan dekat air terjun yang berwarna putih menyerupai air susu yang tumpah dan memecah bebatuan di bawahnya. Menurut Bagus, jika musim penghujan air di sungai bawah tanah Seropan sangat deras. Bahkan, tak jarang terjadi banjir.  

Menurut Bagus, Gua Seropan sangat potensial untuk pemenuhan air penduduk dan juga untuk keperluan studi. Ia berharap, pemerintah dapat memaksimalkan potensi air yang ada di dalam gua tersebut untuk mengatasi kekeringan. "Maka perlu juga melibatkan masyarakat dan LSM untuk program-program tersebut," jelasnya.

Sementara juru kunci Gua Seropan, Karsono (75) menjelaskan masyarakat masih percaya bahwa gua merupakan tempat yang harus dijaga. Ia mengaku kurang begitu setuju apabila gua tersebut hanya dijadikan sebagai tempat wisata. “Saya tidak ingin gua itu rusak karena ulah manusia, namun air di dalam gua tersebut dapat dimanfaatkan untuk kemakmuran masyarakat luas,” pungkasnya. (Agung Ismiyanto).

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved