Teroris di Solo
Polisi Tangkap 2 Terduga Teroris Solo
Detasemen Khusus 88 menangkap dua terduga teroris di Solo di dua tempat pada Jumat (21/9/2012) malam dan Sabtu (22/9/2012) subuh
Terduga teroris itu diduga terkait dengan penemuan bahan peledak di Bojong. "Ini juga menyangkut (penangkapan) terduga sebelumnya pada 12 Juli, yakni Mujib dan Naim. Mereka terkait perekrutan jaringan di Poso," kata Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme Ansyaad Mbai, Sabtu.
Sepanjang Agustus-September, kepolisian telah menembak mati serta menangkap terduga teroris di Jakarta, Bandung, Bojong, Depok, dan Solo. Direktur Eksekutif Yayasan Prasasi Perdamaian Noor Huda Ismail mencatat, setidaknya 600 tersangka teroris telah ditangkap aparat dan mereka ini telah diproses secara hukum dengan terbuka.
Di Solo, polisi menembak mati Farhan dan Mukhsin, pada 31 Agustus 2012. Keduanya diduga bagian dari kelompok jaringan teroris besar dan berbahaya. Kelompok ini terbentuk dari jaringan kelompok pelaku bom bunuh diri di Masjid Ad-Dzikro, Cirebon, dan Gereja Bethel Injil Sepenuh, Solo. Polisi juga menangkap satu terduga teroris, Bayu, di Desa Bulurejo, Gondangrejo, Karanganyar.
Terkait insiden ledakan di Depok, polisi telah menetapkan Yusuf Rizaldi sebagai tersangka. Yusuf menyerahkan diri ke Polsek Pangkalan Susu, Langkat, Sumatera Utara, Rabu (12/9/2012). Insiden ini juga menyebabkan Wahyu Ristanto alias Anwar, yang disebut mahir merakit bom, tewas akibat luka bakar.
Di Tambora, Jakarta, polisi menemukan bahan peledak pada Rabu (5/9/2012). Polisi memastikan, Muhamad Thariq (32), penghuni rumah tersebut, adalah pelaku teror. Terkait kepemilikan bahan peledak itu, polisi juga telah menangkap Arif pada Senin (10/9/2012). Arif diduga memiliki kedekatan dengan Thorik dan terduga teroris lainnya di Beji, Depok.
Di Bojong, polisi menemukan bahan peledak yang serupa dengan bahan-bahan yang ditemukan di Tambora pada Senin, (10/9/2012). (*)