Penembakan di Solo

Saya Sudah Memaafkan Farhan

Satu per satu, Polri berhasil menangkap para pelaku teror penembakan dan pelemparan granat pada pos polisi di Solo.

Penulis: Ikrob Didik Irawan | Editor: tea
Laporan Reporter Tribun Jogja, Ikrob Didik

TRIBUNJOGJA.COM, KARANGANYAR - Satu per satu, Polri berhasil menangkap para pelaku teror penembakan dan pelemparan granat pada pos polisi di Solo. Kabar itu disambut gembira keluarga Bripka Dwi Data, polisi yang tewas ditembak teroris di pos polisi Singosaren, Kamis (30/8) lalu. Keluarga legowo memberikan maaf bagi para pelaku dan sama sekali tak menaruh dendam.

Sebuah koran lokal Solo tergeletak di meja teras rumah Bripka Dwi Data yang terletak di Jalan Bimasakti Blok C Nomor 28 RT 10 RW 22 Perumahan Ngringo Indah, Karanganyar. Koran yang memuat berita pengakuan Bayu Setiono, terduga teroris pelaku teror itu terlihat lusuh, seperti telah berkali-kali dibaca. Di dalam rumah, terlihat Niken Parawani, istri Bripka Dwi Data sedang menyapu lantai.

“Saya sudah baca berita tentang pengakuan Bayu yang katanya meminta maaf atas perbuatan terornya. Saya selaku istri korban memaafkan lahir batin tindakan pelaku. Saya dan anak-anak sama sekali tak menyimpan rasa dendam,” kata Niken setelah mempersilahkan Tribun Duduk di kursi ruang tamu, Jumat (7/9/2012). Setelah suaminya tewas, ibu tiga anak ini memang selalu memantau berita di surat kabar.

Ibu 54 tahun ini menuturkan, siang dan malam ia selalu berdoa agar pelaku penembakan terhadap suaminya segera tertangkap. Sehari kemudian, doa tersebut terjawab saat Densus 88 menembak mati dua terduga teroris Farhan dan Mukhsin di Tipes, Jumat (31/8). Kabar tewasnya terduga teroris itu datang saat Niken bersama warga Ngringo Indah baru saja selesai menggelar yasinan bagi Bripka Dwi Data.

Mendengar kabar itu, peserta yasinan yang sebagian besar ibu-ibu langsung beramai-ramai melihat tayangan televisi yang menyiarkan peristiwa penembakan terduga teroris. Mereka pun beramai-ramai mengutuk terduga teroris yang ternyata masih berusia belasan tahun. “Saya saat itu hanya mengucapkan Alhamdulillah. Tapi belum yakin apakah yang ditembak itu pembunuh suami saya,” katanya.

Iya benar-benar yakin bahwa yang ditangkap Densus adalah pelaku teror di Solo setelah mendapat kepastian dari seorang polisi yang datang ke rumah. Keyakinannya semakin bertambah setelah membaca berita pengakuan Bayu di surat kabar. “Saat membaca pengakuan pelaku, hati saya sangat sesak. Seolah ingin melampiaskan sesuatu pada pelaku. Tapi saya mencoba menahan, jangan sampai terbawa emosi” ujar Niken sambil mengusap air mata.

Niken terus berharap para pelaku pembununuh suaminya yang masih buron segera bisa ditangkap. Saat disinggung apakah hukuman mati pantas bagi Bayu, ia hanya terdiam dan kembali mengusap air mata. “Saya tak tahu. Semoga dihukum setimpal, sesuai dengan perbuatan yang telah dilakukan. Saya tak pernah menyangka, ternyata para pelaku anak-anak muda seumuran anak saya,” katanya.

Meski sudah sepakan lebih, masih ada saja pelayat yang datang ke rumah Niken memberikan ucapan belasungkawa. Saat ini, wanita yang berprofesi sebagai guru ini menjadi tulang punggung keluarga. Beruntung, dari tiga anaknya hanya satu yang masih kuliah. Dua anak lainnya sudah mandiri. “Saat menerima santunan (dari Polri), saya sangat trenyuh. Seolah-olah nyawa suami saya diganti dengan uang. Saya tetap tegar sampai sekarang,” ujarnya lagi.

Semasa hidup, Dwi Data sangat ingin salah seorang anak mengikuti jejak menjadi seorang polisi. Harapan itu digantungkan pada anak nomor tiga, Hani Tri Hani Tri Prajaduta (19). Sebab, kedua kakaknya ternyata lebih memilih menjadi pegawai swasta. Hani sendiri sudah mendaftar mengikuti seleksi menjadi seorang polisi beberapa waktu lalu. “Namun usaha saya gagal karena tak lolos di tes kesehatan,” katanya.

Saat ini, Hani telah terdaftar sebagai mahasiswa di Universita Surakarta (UNSA) setelah menyelesaikan sekolah di sebuah Sekolah Menegah Kejuruan (SMK) di Solo. Peristiwa penembakan yang menimpa Bripka Dwi Data ternyata berdampak pada psikologis Hani. Sebab, ia menjadi pikir-pikir untuk kembali mendaftar menjadi seorang polisi. “Masih pikir-pikir dulu. Tergantung nanti lah,” katanya. (dik)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved