Penembakan di Solo

Farhan Incar Toko Emas Klewer

Terduga teroris Farhan bersama kelompoknya, selain menyerang polisi, ternyata merencanakan aksi perampokan toko emas untuk pembiayaan aksi tero.

Penulis: Ikrob Didik Irawan | Editor: tea
TRIBUNJOGJA.COM, JAKARTA - Terduga teroris Farhan bersama kelompoknya, selain menyerang polisi, ternyata merencanakan aksi perampokan toko emas untuk pembiayaan aksi tero. "Mau merampok toko emas, mau membunuh polisi," kata Kepala Biro Penerangan Masyarakat Divisi Humas Polri, Brigjen Pol Boy Rafli Amar, di Mabes Polri, Jakarta Selatan, Selasa (4/9/2012).

Penyerangan terhadap polisi telah dilakukannya di pos pengamanan lebaran di Kota Solo, mulai dari Pospam Serengan, Gladak dan Singosaren Solo. Dalam aksi itu, dua polisi terluka dan seorang lagi tewas.
Untuk aksi perampokan toko emas, menurut Boy, kelompok Farhan Cs baru mengincar wilayah Solo. "Solo saja. Baru kota pertama dan belum berhasil ke kota lain. Toko emas yang mau dirampok di Solo itu di Pasar Klewer, tapi gagal karena mungkin dilihat penjagaannya cukup ketat," ungkap Boy.

Kusbani, Humas Himpunan Pedagang Pasar Klewer (HPPK) pun kaget, ketika mendengar pernyataan dari Mabes Polri ini. Maklum, selama 2012 ini, tak pernah terjadi tindak kriminal di toko-toko emas Pasar Klewer.
Kejadian kriminal terkahir terjadi tahun lalu, ketika ada toko emas dibobol maling. "Setelah itu, pengaman kami perketat. Sekarang ini setiap hari toko-toko emas selalu dijaga polisi bersenjata," katanya lagi.
Meski dikenal sebagai sentra pasar kain dan pakaian terbesar di Solo, di Klewer memang ada puluhan toko emas yang tersebar di berbagai lokasi lantai I.  "Dibanding kios yang ada di dalam pasar, kios pedagang emas di bagian luar ini lebih besar ukurannya. Jadi emas yang dijual juga lebih banyak," kata Kusbani.
Sedangkan toko yang ada di dalam pasar, jumlahnya sekitar 10-an kios. Ukurannya sekitar 4x4 meter. Jika ditambah pedagang emas kecil yang kiosnya berukuran 1,5x2 meter, jumlah pedagang emas mencapai puluhan. "Setiap hari toko-toko emas itu ramai pengunjung, tak kalah dengan kios pedagang pakaian. Traksaksinya mungkin mencapai puluhan hingga ratusan juta rupiah," katanya.
Dari puluhan toko emas itu, yang tepat berada di pinggir jalan Dr Radjiman ada belasan, menghadap utara dan barat. Di sepanjang jalan Dr Radjiman itu juga terdapat toko-toko emas besar yang tersebar di kiri dan kanan jalan.

Ketua HPPK, Abdul Kadir menambahkan, pada awal Juli lalu, Pasar Klewer sempat diteror paket mencurigakan yang diletakkan di depan kiosnya. Saat dibuka, paket tersebut berisi jeriken, korek api dan jerami, mirip bom molotov.
Namun untuk menghindari agar para pedagang dan pengunjung tak panik, penemuan tersebut dirahasiakan selama berbulan-bulan. "Kita simpan rapat-rapat temuan itu agar tak timbul ketakutan," katanya.
Sebelum peristiwa pengiriman paket bom itu, para pedagang sempat mendapatkan teror lewat pesan singkat (SMS) yang dikirimkan beruntun oleh nomor yang berbeda-beda.

Menurut Kadir, teror via ponsel itu berlangsung dari 26 hingga 30 Juli. "Setelah itu di awal Juli, kiriman paket yang dibungkus kardus itu muncul. Dalam pesan singkat, pengancam katanya mau mengirim 10 paket. Saya tak tahu motifnya apa. Para pedagang sudah kami minta tak terpengaruh," ujarnya.
AKP Parni Handoko, Kapolsek Pasar Kliwon mengatakan, kejadian di Pasar Klewer tersebut masih dalam penyelidikan. Pihaknya mengaku telah meminta keterangan sejumlah saksi yang mengetahui pengiriman paket tersebut. Namun hingga saat ini belum ada titik terang pelakunya.
"Petugas dari Polsek selalu kami siagakan di Klewer untuk mengantisipasi tindak kejahatan, termasuk perampokan.
Kapolresta Solo Kombes Pol Asdjimain mengatakan, pascateror penembakan pos polisi, jajarannya semakin meningkatkan pengamanan. Fokus pengamanan adalah sentra-sentra perekonomian yang ramai masyarakat.
Laskar Solo Protes
Sementara itu, tindakan keras terhadap Wiji Siswo Suwito, mertua terduga teroris Bayu Setyono, mengundang reaksi Laskar Umat Islam Surakarta (LUIS). Mereka mengajukan protes kepada Kapolresta Surakarta Kombes Pol Asdjima'in.
LUIS diwakili enam anggotanya bertemu Kapolresta sekitar pukul 14.00 WIB. Ketua LUIS, Edi Lukito menilai, Densus bertindak arogan dan harus mengubah prosedur operasinya.
Dalam kesempatan itu mereka juga menunjukkan foto-foto Wiji yang mengalami luka serius di bagian wajah akibat tindakan keras personel Densus 88 saat menangkap Bayu yang saat itu berada di rumah mertuanya, kawasan Karanganyar, Jawa Tengah.
"Protap (prosedur tetap) Densus harus dievaluasi. Anggota yang melakukan pelanggaran harus ditindak tegas," kata Edi. Poin-poin lain yang mendapat sorotan yaitu penyitaan barang bukti tanpa surat  penyitaan.
Namun LUIS mengucapkan terima kasih kepada aparat keamanan yang memberikan perlindungan pengamanan sejak awal puasa hingga Lebaran, meski pada akhir-akhir ramadan dinodai adanya upaya-upaya  tidak bertanggung jawab.
Selesai membacakan, Edi menyerahkan pernyataan sikap yang dibungkus stomap hijau tersebut kepada Kapolresta. Kapolres menerima surat pernyataan sikap itu sambil bersalaman dan merangkul Edi.
"Terus terang, saya tak punya wewenang terkait  tindakan Densus kemarin. Pernyataan sikap ini akan saya teruskan ke pimpinan agar menjadi bahan evaluasi," kata Kapolresta.

Dalam obrolan santai setelah penyerahan pernyatan sikap, Kaporesta kembali menegaskan semua operasi Densus 88 Antiteror dikendalikan Mabes Polri, sehingga pihaknya tak tahu menahu bagaimana proses penangkapan tersebut berlangsung. Namun sekilas yang ia dengar, penembakan terpaksa dilakukan karena aksi teror pada polisi di Solo sudah sangat mengkhawatirkan.
"Apalagi para pelaku membekali diri dengan senjata api. Tapi masukan ini tetap akan saya sampaikan ke atasan," katanya.
Hingga kemarin, dua jenazah terduga teroris yang tertembak, Farhan dan Muchsin, masih berada di RS Polri Kramatjati, Jakarta. Keluarga keduanya, kemarin telah menyambangi rumah sakit, untuk diambil sampel organ, guna keperluan tes DNA.
"Iya betul, tapi untuk keluarga Farhan, tes DNA sudah dilakukan kemarin (Senin ) oleh ibunya. Sedangkan hari ini (kemarin) dia datang untuk melihat jenazah anaknya. Sementara dari keluarga Muchsin, tadi siang (kemarin) ayahnya datang untuk di tes DNA," ujar Kepala RS Polri, Brigjen Pol Agus Prayitno. (dik/tribunnews/adi/wah)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved