Smart Woman

Jadi Pramugari, Tak Bisa Merasakan Lebaran

Desy melakukan perjalanan selama empat kali dengan rute (pergi-pulang), Stasiun Tugu Yogyakarta

Penulis: rap | Editor: Iwan Al Khasni
TRIBUNJOGJA.COM, -- Dengan halus dan teliti, Desy Nurjanah menganti bantal yang sudah dipakai penumpang dan menyiapkan bantal yang baru untuk penumpang selanjutnya. Setelah itu piring, sendok dan peralatan makan lainnya juga disiapkan untuk melayani perjalanan yang segera dilakukannya.

Setelah kereta dilangsir, Desy dan teman-temannya sesama pramugari kereta api pun menyiapkan diri untuk boarding di masing-masing gerbong.

Selama boarding, ia harus memberitahu dan mengecek tiket penumpang, dimana mereka duduk dan agar tidak salah masuk kereta. Setelah kereta berangkat ke tempat tujuan, para pramugari ini pun menawarkan makanan, dan melayani segala kebutuhan penumpangnya.

Lulus dari SMA N 1 Adipala, Desy melanjutkan pendidikannya di lembaga pelatihan pramugari di Yogyakarta. Setelah itu perempuan kelahiran Cilacap, 26 Desember 1993 ini pun bertugas sebagai pramugari Kereta Api Indonesia (KAI) sejak April lalu. Sebelumnya Desy bertugas melayani penumpang kereta api Argo Lawu, dan beberapa waktu lalu.

ia dipindah tugaskan untuk melayani penumpang yang menggunakan jasa kereta api eksekutif Taksaka jurusan Yogyakarta-Jakarta.

Perempuan bernama lengkap Desy Nurjanah ini mengatakan, ia bertugas sebagai pramugari KAI setelah ditawarkan oleh lembaga pendidikannya.

Setelah melalui serangkaian tes wawancara dan tes tertulis, ia lolos, dan karena merasa cocok dengan pekerjaan ini, ia pun disalurkan dan bertugas hingga sekarang. Menjadi seorang pramugari, menurut Desy harus siap baik mental dan fisik, terutama ketika kita menghadapi komplain dari penumpang dan ketika badan letih akibat kurang istirahat.                                               

Pengalaman menarik perempuan yang hobi menulis dan menonton ini selama menjadi pramugari, adalah ketika ia diminta untuk melayani para menteri negara.

Pada kesempatan itu ia melakukan perjalanan dengan Menteri Perikanan dan Kelautan di Kereta Nusantara. Adapun perbedaan antara pramugari kereta api dengan pramugari pesawat terbang, selain jenis alat transportasinya, menurut Desy tidak terlalu jauh perbebedaanya.

"Kalau pramugari kereta kan bertugas menawarkan makanan, lalu meminta pembayaran makanan tersebut, sedangkan kalau di pesawat kan tidak. Terus kalau di kereta itu biasanya, jam kerja lebih lama daripada pesawat," ujarnya.

Lebaran lalu, dimana jasa kereta api sangat dibutuhkan oleh para pemudik yang membludak, otomatis Desy tetap bekerja, bahkan semakin sibuk. Tidak bisa merayakan Lebaran bersama keluarga di rumah, adalah resiko yang harus ia terima sebagai orang yang bekerja di bidang transportasi.    
                                           
Dalam seminggu, Desy melakukan perjalanan selama empat kali dengan rute (pergi-pulang), Stasiun Tugu Yogyakarta - Stasiun Gambir Jakarta, dan sebaliknya.               

Ketika libur, Desy selalu memanfaatkan waktunya untuk jalan mencari hiburan bersama teman-temannya.  "Untuk hiburan aja, sekalian menghilangkan kejenuhan karena aktifitas kerja," ungkapnya tersenyum.                                                                   

Sebelumnya, Desy mengaku bercita-cita menjadi pramuguri pesawat terbang, dan perawat. "Kalau flight attendant kan bisa pergi-pergi kemana saja, bahkan jauh ke luar negeri.Nah, kalau perawat karena saya suka membantu orang dan juga bersosialisasi dengan orang banyak," katanya. (*)                                                                    

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved