Gantungkan Rejeki dari Berjualan Bunga Edelweis di Merapi

Jika sedang ramai pengunjung, setiap pedagang paling banyak sanggup menjual 15 hingga 20 ikat bunga setiap harinya.

Tayang:
Penulis: Mona Kriesdinar |
ERUPSI Merapi 2010 lalu menyebabkan begitu banyak korban, baik itu nyawa maupun harta. Ratusan rumah hancur, begitu pula dengan ladang para petani yang juga luluh lantak. Namun, lebih dari satu tahun berselang, erupsi merapi mulai memperlihatkan manfaatnya bagi warga sekitar. Ribuah hektar hutan kini sudah mulai menghijau, sektor pariwisata pun semakin menggeliat seiring dengan banyaknya wisatawan yang ingin menyaksikan sisa – sisa kedahsyatan terjangan wedhus gembel.

Hal itu, tak lepas dari bidikan warga untuk mengais rejeki dari para pengunjung kawasan wisata lava tour, yang berada di Kinahrejo, Cangkringan. Ada yang bekerja sebagai pemandu wisata, petugas parkir serta tak sedikit yang menekuni usaha berjualan makanan – makanan kecil, jualan kerajinan serta makanan khas yang kerap ditemukan di lereng merapi berupa menu tempe jaddah.

Satu diantaranya yakni Darto (40). Ia satu diantara sekian banyak pedagang yang menggantungkan hidupnya dari berjualan bunga abadi atau lebih dikenal dengan sebutan bunga edelweiss. Bunga ini memang banyak ditemukan di sekitar jalur pendakian dan wilayan Dusun Kalitengah Lor, Glagaharjo, Cangkringan. Lantaran keawetan dan keindahannya, bunga ini menjadi buruan para wisatawan yang ingin memiliki bunga ini sebagai cinderamata.

“Lumayan untuk menambah pendapatan keluarga,” ujar Darto saat ditemui beberapa waktu yang lalu.

Berjualan bunga edelweiss memang dirasakannya cukup menjanjikan. Dalam sehari, ia sanggup menjual rata – rata sebanyak 10 ikat bunga. Karena laris itu pula, maka tak heran, di lokasi itu kini setidaknya ada 20 pedagang bunga sejenis.

Jika sedang ramai pengunjung, setiap pedagang paling banyak sanggup menjual 15 hingga 20 ikat bunga setiap harinya. Terutama pada puncak kunjungan yang biasanya jatuh pada akhir pekan. “Kami di sini juga menyediakan bunga Sataria yang hanya bisa ditemukan di Merapi,” jelasnya.

Bunga tersebut, dijual seharga Rp 20 ribu hingga Rp 25 ribu per ikatnya. Jumlah itu, dirasakan sudah mencukupi kebutuhan keluarga, terutama jika dikaitkan dengan hancurnya perekonomian warga paska erupsi merapi.

Hal yang sama diungkapkan Yani. Ia lebih memilih menjual bunga abadi dibandingkan menjajakan makanan. Selain laris manis, ia juga tak perlu khawatir saat barang dagangannya tidak habis.

Kedua penjual ini merupakan korban erupsi merapi yang semua harta bendanya telah hancur bersamaan dengan luncuran awan yang sangat panas. Mereka kehilangan harta dan juga sumber penghasilan. Awalnya, mereka mengaku pesimis sanggup bangkit dari keterpurukan yang mereka alami. Terlebih, erupsi merapi menyebabkan kerusakan dahsyat di sekitar Gunung Merapi yang biasanya menjadi tempat berladang dan mengembala sapi peliharaan mereka.

“Tapi saya yakin, Tuhan punya rencana besar buat kami. Terbukti saat ini kami perlahan – lahan mulai bangkit,” tandas Yani optimis. (Mona Kreisdinar)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved