Kirab Agung Keraton Solo
Hangabehi Naik Kereta Peninggalan Paku Buwono XI
Kereta Kencana Garuda Putra, sebuah kereta pusaka milik Keraton Kasunanan Surakarta, dipergunakan upacara adat setelah puluhan tahun tidak dipakai.
TRIBUNJOGJA.COM, SOLO - Kereta Kencana Garuda Putra, sebuah kereta pusaka milik Keraton Kasunanan Surakarta, dipergunakan dalam upacara adat setelah puluhan tahun tidak dipakai. Kereta tersebut, dahulu, khusus untuk raja dan putera mahkota.
Terakhir kali kereta khusus itu dipergunakan pada masa pemerintahan Paku Buwono (PB) XI, yang memerintah sebagai Raja Keraton Surakarta tahun 1893 1939. "Bahkan PB XII pun tidak pernah menggunakan kereta ini," kata menantu almarhum PB XII, Kanjeng Pangeran (KP) Satriyo Hadinagoro, kepada Tribun Jogja, Minggu (17/6/2012) siang.
Karena semasa hidup PBXII tidak memiliki putera mahkota (dan tak punya permaisuri), maka otomatis kereta tersebut tidak pernah dipergunakan. Kereta yang berusia puluhan tahun itu, kini dipergunakan saat gelaran Kirab Agung Sewindu Tinggalan Dalem Jumenengan Sampeyan Dalem Ingkang Sinuhun Kanjeng Susuhunan (SISKS) Paku Buwono XIII, Minggu siang.
Dalam acara yang dilaksanakan sebagai wujud syukur atas bersatunya kembali keluarga keraton tersebut, Kereta Garuda Putera dinaiki oleh Raja Paku Buwono XIII Hangabehi, permaisuri Paku Buwono XIII, dan Putera Mahkota Gusti Pangeran Haryo (GPH) Purboyo. Selain Kereta Garuda Putera, dikirab pula Kereta Maraseba dan Kereta Kiai Raja Peni yang dinaiki oleh puteri puteri kerajaan.
Dalam prosesi kirab, Raja PB XIII berjalan kaki ke luar keraton, melalui pintu utama atau Kori Kamandungan, melintasi Sitihinggil menuju Pagelaran Keraton dengan diiringi sejumlah prajurit keraton. Sementara Maha Patih KGPH Panembahan Agung Tedjowulan menunggu di Pagelaran. Raja bersama permaisuri serta putera mahkota menaiki kereta kencana, sedangkan Tedjowulan mendampingi di sebelah kanan kereta raja.
Sesudah itu, kirab berjalan ke arah utara, antara lain melewati Balai Kota Solo, Jalan Jenderal Sudirman. Sepanjang jalan berjubel masyarakat menyaksikan kirab. Tedjowulan tampak gagah di atas kuda. Sedangkan Hangabehi berada di dalam kereta, tak gampang dilihat oleh massa warga.(Tribunjogja.com)