Konflik Keraton Solo

Tanpa Undangan Abdi Dalem Tahu Ada Upacara Adat

Seorang abdi dalem asal Deles, Kemalang, Klaten, Jawa Tengah, Panewu Panto Miharjo mengaku selalu hadir dalam peringatan hari kelahiran PBXIII.

Editor: jun
Laporan Reporter Tribun Jogja, Ade Rizal

TRIBUNJOGJA.COM , SOLO - Meski tidak dilaksanakan di bangunan utama Keraton Kasunanan Surakarta, namun sekitar 700 abdi dalem, kerabat dan sejumlah sentana keraton tetap antusias mengikuti pelaksanaan upacara adat Wiyosan Ndalem, Wetonan Sinuhun Paku Buwono XIII Hangabehi. Upacara adat yang dilaksanakan rutin tiap 35 hari ini, seharusnya dilaksanakan di bangunan utama Keraton Kasunanan Surakarta, namun karena kondisi konflik di keraton, upacara adat tersebut terpaksa dilaksanakan di Sasana Putra.

Seorang abdi dalem asal Deles, Kemalang, Klaten, Jawa Tengah, Panewu Panto Miharjo mengaku selalu hadir dalam peringatan hari kelahiran PBXIII berdasarkan penanggalan Jawa tersebut. Dirinya tidak perlu diundang karena kegiatan tersebut rutin dilaksanakan setiap 35 hari sekali bertepatan dengan hari Senin Pahing. "Saya datang bersama 8 orang dan sudah rutin. Jadi sudah tahu ada acara ini," katanya saat ditemui wartawan sebelum acara di Keraton Kasunanan Surakarta, Minggu (27/05/2012).

Dirinya tidak mempermasalahkan pemindahan lokasi penyelenggaraan upacara tersebut karena tidak akan mengurangi esensi dari upacara tersebut. Panto mengaku senang karena kedatangannya bisa disambut langsung oleh Sinuhun dan bisa bertemu raja secara langsung sehingga dirinya tidak mempermasalahkan tempat penyelenggaraan acara adat tersebut. "Karena kita datang dan ditemui sendiri oleh pemilik rumah, jadi saya sangat senang," jelasnya. (*)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved