Pesawat Sukhoi Hilang
Femi Sempat Pesan Batik Sebelum Lenyap Bersama Sukhoi
Femi berencana mudik ke Yogyakarta dua minggu lagI
Penulis: Sigit Widya | Editor: Iwan Al Khasni
BAJU batik berkerah memang hampir dikenakan Femi setiap hari saat bertugas. Sebab, wartawan Bloomberg korban pesawat Sukhoi SJ-100 yang jatuh di Gunung Salak, Jawa Barat, Rabu (9/5), tersebut kerap ditugaskan untuk meliput di Istana Negara, Jakarta. Meski demikian, Joko mencoba berpikir positif mengenai kejanggalan itu.
"Artinya, saya tidak menganggapnya (memesan pakaian batik lebih banyak dari biasanya, Red) sebagai firasat terkait musibah ini. Hanya, rasanya kok aneh. Biasanya, Femi memesan pakaian batik sepuluh potong," jelas Joko, Kamis (10/5/2012) sore, di rumahnya.
Dituturkannya pula, Femi berencana mudik ke Yogyakarta dua minggu lagi. Kebetulan, momen tersebut berbarengan dengan cuti bersama. Selain akan menjajal baju batik pesanannya, Femi juga berniat menengok rumahnya di Bumijo Tengah, Jetis I, RT 31/RW 07, 1326, Yogyakarta, yang kali terakhir disambangi pada Desember 2011 lalu.
"Femi berkata kepada saya akan pulang saat cuti bersama dua minggu mendatang. Namun, malah ada musibah seperti ini (pesawat Sukhoi SJ-100 jatuh, Red). Saat ini, keluarga juga belum memutuskan, ke mana nantinya jenazah Femi akan dibawa," aku Joko.
Kakak kandung Femi, Esti, masih setia menunggu kepastian kabar dari pihak berwenang mengenai kondisi para korban, termasuk Femi. Sejak kemarin, Esti berada di Halim Perdanakusumah. Kemungkinan, jika evakuasi selesai dilakukan, jenazah Femi akan dibawa ke rumah Bumijo Tengah.
"Masalahnya, selain belum ada kepastian kabar, kunci rumah yang di Bumijo dibawa oleh Femi dan Esti. Kami tidak bisa melakukan persiapan dan sebagainya. Sementara lokasi untuk pemakaman jenazah, kemungkinan akan di Turi, Sleman. Almarhum bapak dan almarhumah ibunya juga diistirahatkan di sana," jelas Joko.
Terpisah, Tari (79), bibi Femi yang rumahnya juga berada di Bumijo Tengah, mengaku sudah lima bulan tidak bertemu keponakannya tersebut. Komunikasi juga tidak pernah dilakukan, mengingat adik kandung ayah Femi itu tidak memiliki telepon, apalagi telepon seluler.
"Desember 2011 lalu, Femi datang ke sini. Dari Jakarta, ia biasanya langsung menuju Mangkuyudan, lalu ke sini naik sepeda motor. Femi menengok rumahnya, bersih-bersih dan menata ratusan, bahkan ribuan, buku yang ada di dalamnya," beber Tari.
Ia juga tidak tahu mengenai rencana selanjutnya terkait musibah yang dialami Femi. Namun, yang jelas, ia sempat kaget saat mendengar kabar bahwa Femi menjadi salah satu korban jatuhnya pesawat Sukhoi SJ-100. Hal serupa dialami kerabat Femi di Mangkuyudan.
"Ya (kami) kaget. Sampai sekarang, keluarga juga belum tahu, ke mana jenazah Femi akan dibawa. Bisa jadi, ya dibawa ke rumah ini," terangnya sambil menunjukkan jari ke rumah peninggalan orangtua Femi di Bumijo Tengah.
Femi sudah dua tahun bekerja di Bloomberg. Sebelumnya, ia sempat bergabung di Tabloid Bisnis dan Investasi Kontan (Kelompok Kompas Gramedia) di Jakarta sejak 2004 hingga 2009. Terakhir, Femi menduduki jabatan sebagai junior editor. Selama kurun waktu tersebut, Femi kerap pulang ke Yogyakarta, minimal sebulan sekali. (TRIBUNJOGJA.COM)