Satu Abad HB IX
Trah Pangeran Diponegoro Ikrar Keistimewaan Yogya
Peringatan satu Abad Sri Sultan HB IX di Pagelaran Keraton Yogyakarta, Kamis (12/4), diwarnai deklarasi mendukung keistimewaan DIY
Penulis: Hendy Kurniawan | Editor: tea
TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Peringatan satu Abad Sri Sultan HB IX di Pagelaran Keraton Yogyakarta, Kamis (12/4), diwarnai deklarasi mendukung keistimewaan DIY, dari perwakilan Trah Pangeran Diponegoro dan Trah Laskar Diponegoro. Mereka menyampaikan sikapnya di depan Sri Sultan HB X.
Menurut keturunan ke-7 Trah Diponegoro, Ki Roni Sodewo, 1.100 trah ikut datang meramaikan peringatan ini sekaligus sebagai wujud dukungan keistimewaan DIY. "Ini bukanlah gerakan politik tetapi gerakan moral dan budaya," katanya. Kalaupun gerakan ini berimplikasi pada keputusan politik di pemerintah pusat, katanya, terhadap bentuk keistimewaan DIY, maka hal ini membuktikan politik di nusantara masih memiliki budaya tinggi.
Ribuan trah ini awalnya menyampaikan deklarasi di Gedung Sasana Wiratama Monumen Diponegoro di Tegalrejo Yogyakarta. Dilanjutkan melakukan longmarch menuju Pagelaran Keraton melewati Jalan Diponegoro, Jalan Mangkubumi dan Jalan Malioboro, sebelum berakhir di Alun Alun Utara.
Ada sembilan orang yang mengendarai kuda lengkap dengan pakaian yang menunjukkan tokoh Kyai Mojo, Pangeran Mangkubumi, Nyi Ageng Serang, Pangeran Diponegoro, Ki Anom, Ki Sodewo dan Ki Joned.
"Kami tegas mendukung keistimewaan DIY atas dasar sejarah. Pangeran Diponegoro adalah keturunan dari Sri Sultan HB III dan kami akan terus menggali sejarah Mataram sekaligus sejarah Pangeran Diponegoro," jelas Roni.
Roni kemudian mengingatkan, 187 tahun lalu Pangeran Diponegoro pernah berjuang membela bangsa. "Kalau sekarang harus berjuang lagi, tidak ada salahnya. Tetapi dengan perjuangan adat dan budaya," papar Roni. Trah Pangeran Diponegoro dan Laskar Diponegoro yang hadir bukan hanya perwakilan dari seluruh Indonesia, namun ada juga yang datang dari Australia. Mereka bertekad menjadi bagian dari pendukung keistimewaan DIY dengan azas ijab kobul.
"Lamaran sudah dikemukakan, mahar sudah ditentukan, ijab kobul pun sudah diucapkan. Jangan ada perceraian, jangan ada pengingkaran, jangan pula ada tipuan," pesan Roni. Sultan yang menerima ikrar dari Trah Diponegoro, memang tidak memberikan komentar. Secara serius, raja Ngayogyakarta itu memperhatikan setiap kata yang diucapakan Roni di hadapannya.
Selain menerima ikrar keistimewaan dari Tra Diponegoto, Sultan juga menerima ikrar dari Paguyuban Lurah dan perangkat desa se DIY 'Ismoyo' masa bakti 2012-2015, dan Paguyuban Dukuh se-DIY 'Semar Sembogo' periode 2012-2017.
Sukiman Hadiwijoyo, Ketua Paguyuban Dukuh se-DIY 'Semar Sembogo' periode 2012-2017, secara tegas meminta pada pemerintah pusat, agar Sri Sultan HB X dan Paku Alam harus secara otomatis ditetapkan sebagai pasangan Gubernur dan Wakil Gubernur DIY.
"Kami beserta seluruh warga pedesaan di DIY tak pernah surut untuk menjaga Negeri ini dengan keistimewaan yang dimiliki. Kami jelas mengatakan tidak pada (opsi) pemilihan, karena penetapan adalah harga mati yang tak bisa diganggu gugat," kata Sukiman, yang disambut tepuk tangan riuh para hadirin.
Sukiman pun menyatakan, sebanyak 4.579 anggota dukuh se-DIY siap siap menjadi benteng terakhir untuk mengawal penetapan pembahasan Rencana Undang-undang Keistimewaan (RUUK) DIY, agar segera disyahkan.
Menurut Sukiman, dukungan warga DIY terhadap keistimewaan Yogyakarta, karena mereka mengingat jasa-jasa Sultan HB IX tidak bisa dihitung lagi.
Sedangkan Ketua Paguyuban Lurah dan perangkat desa se DIY 'Ismoyo' masa bakti 2012-2015, Bibit Rustanto, di hadapan Sultan juga berikrar mendukung keistimewaan DIY. Bibit mengucapkan terima kasih kepada almarhum Sri Sultan HB IX atas putusan keraton yang mengizinkan sebagian tanah kasultanan (sultan ground) menjadi bagian dari tanah kas desa.
"Tanah yang diberikan Ngarso Dalem Kaping IX menjadi sumber pendapatan desa, sehingga dapat menghidupkan desa. Kami juga berterima kasih karena HB X melanjutkan keputusan HB IX sampai sekarang," ungkap Bibit.
Sebelum mereka berikrar, Sultan HB X meminta semua lurah dan kepala dukuh agar melaksanakan tugas dengan baik sesuai dengan tanggung jawab. "Saya percaya, sebagai pengurus paguyuban lurah maupun dukuh di DIY akan melaksanakan tugas dengan baik," kata Sultan. (*)