Obama Berjanji Dukung Proses Transisi Libya
Barack Obama berjanji untuk mendukungan secara terus-menerus dalam proses transisi dan pembangunan kembali yang tengah dilakukan Libya.
Tayang:
Editor:
ufi
TRIBUNJOGJA.COM, WAHINGTON - Presiden Amerika Serikat Barack Obama pada Rabu (7/2/2012) berjanji untuk memberikan dukungan secara terus-menerus dalam proses transisi dan pembangunan kembali yang tengah dilakukan Libya.
Dalam petemuannya dengan Perdana Menteri Abdul Rahim Al-Keab di Gedung Putih, Obama juga memuji perdana menteri itu atas kepemimpinannya selama proses transisi demokrasi Libya dan upaya yang dilakukan pemerintah Libya dalam membangun kembali negara itu, kata Gedung Putih.
"Presiden AS mendukung Perdana Menteri Libya untuk melanjutkan rencana menggelar pemilihan umun pada Juni dan menekankan pentingnya transparansi dan melibatkan masyarakat sipil LIbya seiring upaya pemerintah untuk mengembangkan institusi yang akuntabel," kata Gedung Putih dalam sebuah pernyataan.
Sebagai tambahan kedua pemimpin juga membicarakan sejumlah masalah keamanan dan peningkatan kerja sama dalam manajemen perbatasan, keamanan persenjataan dan upaya menangkal terorisme di kawasan.
Selama kunjungannya ke Washington, Al-Keab dijadwalkan bertemu dengan sejumlah pejabat tinggi Amerika Serikat.
Pemerintah transisi Libya, yang secara resmi memerintah pasca jatuhnya rezim Muamar Gaddafi pada November 2011, telah berjuang untuk memulihkan pelayanan sipil, mempertahankan hukum serta menertibkan kelompok bersenjata yang menolak untuk menyerahkan senjata mereka, setelah berhasil berjuang menggulingkan Gaddafi.
Pemerintah transisi juga menjanjikan pemilihan umum untuk rakyat Libya selambat-lambatnya delapan bulan sejak jatuhnya pemimpin yang telah berkuasa di negara kaya minyak itu selama 42 tahun.
Komisi Pemilihan Umum Libya telah dibentuk pada Februari lalu dan akan mengurusi proses pemilihan umum pada Juni, yang diharapkan dalam menentukan anggota Majelis Nasional yang baru Libya.
Sementara itu warga Libya yang memiliki hubungan dengan Muammar Khadafi dilarang mengikuti pemilu negara tersebut, karena hal itu merupakan bagian dari RUU Pemilu yang sedang disusun.(*)