Status Merapi Tetap Aktif Normal

dak ditemukannya pembentukan kubah lava baru setelah letusan Gunung Merapi

Tayang:
Penulis: Iwan Al Khasni | Editor: ufi
Laporan Reporter Tribun Jogja, Iwan Al Khasni

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Guna memastikan dampak meningkatnya aktivitas Gunung Merapi beberapa waktu lalu, tim Balai Penelitian dan Pengembangan Teknologi Kegunungapian (BPPTK) Yogyakarta memutuskan untuk naik ke puncak Merapi.


Hasilnya yang diperoleh tim yang berangkat pada Selasa (21/2/2012) itu antara lain; BPPTK meyakini tidak ditemukannya pembentukan kubah lava baru setelah letusan Gunung Merapi pada tahun 2010. selain itu meski sempat aktivitas sempat naik status status Merapi tetap aktif normal


“Kubah lava yang terdapat dipuncak Merapi relatif tidak mengalamai perubahan, kubah itu sama dengan yang selama ini kami lihat dan tampak dari sisi bagian Selatan,”kata Kepala Seksi Merapi Balai Penelitian dan Pengembangan Teknologi Kegunungapian (BPPTK), Sri Sumarti, kepada Tribun Jogja, Kamis (23/2/2012).


Meski tidak dipungkiri oleh tim BPPTK, bahwa dari hasil pengamatan yang didapatkan selama dipuncak, aktivitas kegempaan yang sempat meningkat di Merapi menyebabkan beberapa guguran pada tebing yang berada di sekitar puncak Merapi.


Terungkap juga, dua lubang yang berada di kubah juga sempat tertutup akibat letusan 2010, ditambah dengan guguran yang terjadi saat aktivitas Merapi meningkat beberapa waktu lalu. Hanya saja peningkatan aktivitas Merapi beberapa waktu lalu membuka lubang yang berada di sisi Utara.


Dijelaskan Sri Sumarti, saat naik ke puncak Merapi ditemukan pula air mengenang di lubang-lubang kawah. Air itu berasal dari air hujan yang tidak bisa terserap sebab debu vulkanik yang menyumbat. Air akan hilang sendirinya tergantung dari cuaca di puncak Merapi.


Disana juga tampak kepulan asap sulfara dibeberapa titik kawah. Hal itu merupakan aktivitas yang wajar dari aktivitas sebuah Gunung Merapi yang masih aktif. “Ada beberapa titik sulfatara yang muncul dari lubang-lubang,”ujar Srikandi Merapi itu.  


Safari Dwiyono, staf Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kegunungapian (BPPTK) Yogyakarta menambahkan, dari hasil bidikan kamera termal pada sejumlah titik gas panas dipuncak Merapi sempat terekam hingga mencapai 572 derajat celcius.


“Suhu sulfatara itu terekam pada (22/2/2012) pukul 07.28, titiknya berada di timur kawah. Panas itu yang sering terlihat dari bawah seperti titik api,”ujarnya.


Tim BPPTK sengaja naik ke puncak Merapi untuk memastikan terjadinya kenaikan aktivitas pada beberapa waktu lalu. Data yang diperoleh dari puncak Merapi akan dijadikan satu dari sekian faktor untuk menentukan status Merapi. (*)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved