Berdagang Pigura 25 Tahun Suyadi Cetak Dua Sarjana
Berdagang Pigura 25 Tahun Suyadi Cetak Dua Sarjana
Penulis: tea | Editor: tea
TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - "Lukisannya berapa pak," tanya salah seorang wanita yang tertarik untuk membeli lukisan tersebut. Bapak itu menjawab kalau lukisannya dijual dengan harga Rp100 ribu. Tapi kalau dengan pigura harganya Rp185 ribu, jawab Suyadi, penjual lukisan tersebut.
Suyadi pria berusia 51 tahun itu telah berdagang 25 tahun lebih di trotoar Jalan P. Senopati, yang merupakan kawasan perekonomian. Suyadi menggelar dagangannya di sebuah gerobak warna hijau, dagangannya berupa pigura, cermin dan juga gambar-gambar tokoh nasional, Presiden dan Wapres serta gambar pahlawan. Suyadi pun menjual lukisan dari seorang pelukis asal Bandung A. Rahmat, lukisan dengan tema alam, seperti pemandangan alam, suasana desa, air terjun, juga bunga, dan ikan koi.
"Lukisan ikan koi dan pemandangan desa ini paling banyak diminati, pernah ada wisatawan Amerika yang borong sampai 5 lembar lukisan, untuk dibawa ke negaranya," ujar Suyadi ketika disambangi Tribun Jogja, Selasa (6/12).
Harga lukisannya memang murah, karena dilukisan di media kanvas, dengan cat minyak. Namun katanya, biar murah lukisan semacam ini banyak peminatnya. Suyadi menjadi satu-satunya pedagang yang menjual lukisan di sepanjang trotoar Senopati, sementara ada sekitar 40 pedagang lainnya hanya berdagang cermin, pigura dan gambar toko nasional.
Untuk cermin harganya bervariasi mulai ukuran 30 cm x 40 cm harganya Rp40 ribu, ukuran 30 cm x 86 cm harganya Rp50 ribu dan ukuran 40 cm x 86 cm harganya Rp75 ribu. Begitu juga dengan pigura mulai ukuran 10R harganya Rp17.500, ukuran 60 cm x 80 cm harganya Rp100 ribu dan ukuran 80 cm x 135 cm harganya Rp400 ribu. Dalam sehari ia bisa mendapatkan penghasilan antara Rp100 ribu - Rp500 ribu.
"Paling laku itu cermin sehari bisa 3-4 biji yang laku, biasanya dari sekolahan, dan instansi yang pesan. Tapi juga banyak yang beli eceran untuk dipakai sendiri," terang Suyadi, yang tinggal di daerah Prawrodirjan, Gondomanan, Yogyakarta ini.
Bersama istrinya Sumiyati (48) ia berdagang sejak tahun 1986 Suyadi menjalani usahanya, sebelumnya ia pedagang bakso yang kerap mangkal di pasar buku Soping. Berbagai usah pun pernah dijajal mulai dari dagang es campur, es tape, jual korek gas dan akhirnya karena tidak berprospek ia pun menjajal ke usaha pigura, dan tak disangka bisa bertahan sampai 25 tahun.
"Saya nggak suka kerja ikut orang, tidak berkembang dan tidak bisa bebas, kalau usaha kita kan bisa menentukan pendapatan sendiri," ucap Yadi sapaannya.
Selama berdagang pigura di trotoar Senopati, suka duka pun turut mewarnai perjalanan usaha Suyadi. Awal-awal berdagang sering disantroni Sat Pol PP, karena memang dulu daerah tersebut tidak diperbolehkan untuk berdagang. Namun PKL tersebut tetap nekat, hingga akhirnya pemkot memperbolehkan para pedagang berjualan di tempat itu.
"Cuma kita dagang hanya boleh dari pagi jam 9 hingga jam 5 sore. Kalau malam harus bersih dan tutup. Ya kita pun ikut aturan tersebut," ucap Suyadi, yang juga Ketua PKL Senopati Unit 11.
Dulu kondisinya tak sebagus sekarang, hanya pakai gerobak ala kadarnya buatan sendiri. Namun sejak tahun 2004, para pedagang kaki lima tersebut mendapat bantuan sponsor dari perusahaan rokok, melalui Pemkot Yogya. Mereka dibuatkan gerobak seragam warna hijau, dan diberi seragam surjan, yang dipakai jika pemkota Yogya ada gawe.
Dulu yang berdagang di trotoar Senopati ada sekitar 63 pedagang, tapi kini menyusut menjadi 45 pedagang, dan hampir 50 persen adalah orang Madura. Dalam sebulan para pedagang dipungut bayaran sebesar Rp22.500 yang antara lain untuk bayar sampah, iuran koperasi, dan kegiatan pertemuan antar anggota PKL.
Dari hasil berdagang pigura, Suyadi kini sudah bisa menyekolahkan kedua putrinya sampai jenjang perguruan tinggi. Anaknya yang pertama kuliah di UNY dan yang kedua di UAD dan dua-duanya sudah lulus. Memang tak pernah mengira rezeki itu datangnya kapan, tapi Suyadi selalu mensyukuri berapapun yang diterimanya hari ini. Namun suatu saat, Suyadi berharap bisa buka kios sendiri untuk berdagang.
"Saya harap pemkot mau memberi permodalan untuk buka kios, saya pengen usaha saya bertambah maju," pungkasnya. (*)