Bulus Raksasa Ditemukan di Sungai Ciliwung
Warga Jakarta digegerkan dengan penemuan Bulus raksasa di Sungai Ciliwung
Tayang:
Editor:
oktora-veriawan
TRIBUNJOGJA.COM,JAKARTA - Penemuan bulus raksasa (Chitra chitra javanensis) yang diketahui merupakan hewan terancam punah berdasarkan Daftar Merah International Union for Conservation of Nature (IUCN) dan dilindungi menurut PP7/1999 pada Jumat (11/11/2011) tak cuma membuat geger tetapi juga menimbulkan pertanyaan. Apakah Ciliwung merupakan habitat bulus raksasa itu?
Pakar herpetologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, Mumpuni, dalam keterangannya pada Kompas.com Selasa (15/11/2011) lalu mengatakan bahwa bulus raksasa itu memang pernah ditemukan di Ciliwung pada tahun 1980an lalu. Tepatnya, bulus raksasa itu ditemukan di wilayah Radio Dalam dan Tanjung Priok.
Namun demikian, Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam, Ahmad Saerozi, saat dihubungi Rabu (16/11/2011) kemarin mempertanyakan hal tersebut. Ia mengatakan bahwa BKSDA sejauh ini belum pernah menemukan satwa tersebut. Ia mengungkapkan, ada kemungkinan bahwa bulus raksasa itu adalah lepasan dari piaraan warga.
Untuk menyelidiki hal tersebut, tim BKSDA kemarin mendatangi lokasi penemuan bulus raksasa tersebut. Ketika bertemu Haji Bombay --yang menampung bulus raksasa-- tim BKSDA menemukan fakta bahwa bulus raksasa tidak ada karena sudah dilepaskan pada Rabu dini hari (16/11/2011). Tapi, tim berhasil mengorek beberapa informasi dari warga.
"Dari keterangan Haji Bombay, memang diketahui bahwa bulus raksasa itu sering dijumpai oleh warga. Biasanya warga menemukan bulus tersebut di aliran sungai yang kedalamannya sekitar 10 meter. Biasanya bulus itu menyembulkan kepalanya," kata Budi Mulyanto, Kepala Seksi Konservasi Wilayah I BKSDA DKI Jakarta saat dihubungi Kamis (17/11/2011).
Ada empat lokasi dimana bulus raksasa itu sering ditemui. Keempat lokasi itu adalah Kudung Babi, Kedung Raden, Kedung Wuni dan Kedung Kuda, yang seluruhnya berada di wilayah aliran Sungai Ciliwung. Pelepasan bulus sendiri dilakukan di Kedung Wuni, berada di dekat tempat latihan Kopassus yang juga berdekatan dengan Tanjung Barat.
"Saat ini kita sudah kerahkan tim untuk melakukan monitor di lokasi-lokasi tersebut," kata Budi. Monitoring meliputi observasi jika bulus tersebut muncul ke permukaan maupun menjaring informasi dari warga sekitar tentang penampakan bulus itu. Menurut Budi, jika Ciliwung memang habitat satwa itu, maka pasti bulus itu pasti akan sering dijumpai.
Hasil monitoring akan digunakan sebagai dasar untuk menentukan langkah selanjutnya. Bila memang Ciliwung merupakan habitat bulus raksasa langka itu, maka langkah konservasi tentu harus dilakukan. Penyelesaian masalah Ciliwung tidak hanya akan mencakup masalah tumpukan sampah, tapi juga keanekaragaman hayati di dalamnya.
Seperti diberitakan sebelumnya, mayoritas ikan, udang, kepiting dan mollusca Ciliwung tlah punah. Kepunahan ikan bahwa mencapai 92 persen dari total biota yang ada, berdasarkan riset tahun 2009 oleh LIPI dengan membandingkan koleksi biota di Museum Biologi Bogor. Kepunahan bulus raksasa ini harus dicegah.(*)